REPUBLIKA.CO.ID, Maka, sang pemuda inipun akhirnya mengenalkan diri. “Wahai Ibnu Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah iblis,” ujarnya.
“Lalu, mengapa engkau menolongku dan selalu mengantarkanku ke masjid? Bukankah engkau semestinya mencegahku untuk ke masjid?” tanya Ibnu Ummi Maktum lagi.
Sang pemuda itu kemudian membuka rahasia. “Wahai Ibnu Ummi Maktum, masih ingatkah engkau beberapa hari yang lalu tatkala engkau hendak ke masjid dan engkau terjatuh? Aku tidak ingin hal itu terulang lagi.”
“Sebab, karena engkau terjatuh, Allah telah mengampuni dosamu yang separuh. Aku takut kalau engkau jatuh lagi Allah akan menghapuskan dosamu yang separuhnya lagi sehingga terhapuslah dosamu seluruhnya. Maka, sia-sialah kami menggodamu selama ini,” jawabnya.
Ibnu Ummi Maktum tak hanya taat melaksanakan shalat, tetapi juga rajin menghafalkan Alquran. Dia adalah sahabat nabi yang paling banyak menghafalkan Alquran. Dia sangat rajin mendatangi majelis Rasulullah dan menyimak setiap surat yang diturunkan Allah kepada Nabi.
Tak sekali dua kali dia meminta Rasullah mengulang sebuah surah atau firman Allah yang baru saja diterimanya agar dia dapat menghafalkannya. Tetapi, sikap rewelnya ini tak pernah sekalipun membuat Rasullulah kesal.
Hingga suatu ketika, Rasulullah sedang gencar-gencarnya berdakwah kepada para pemuka Quraisy. Nabi sangat berambisi untuk mengislamkan mereka.
Pada suatu hari Rasulullah mengadakan pertemuan dengan Utbah bin Rabi’ah, saudara kandung Syaibah bin Rabi’ah, yaitu Amr bin Hisyam atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Jahal dan Walid bin Mughirah atau ayah Khalid bin Walid.




