REPUBLIKA.CO.ID, Tsa’labah sangat senang. Setiap hari dia berusaha menggemukkan ternaknya, membuat ternaknya bisa menghasilkan susu yang banyak untuk bisa dijual.
Pada suatu sore, sambil mengurus ternaknya, Tsa’labah mendengar suara terompet ditiup. Tanpa ragu, Tsa’labah menyandang pedang, mengendarai untanya, lalu pergi menuju masjid Nabi di Madinah.
Sesampai di sana, dia melihat kelompok Anshar dan Muhajirin mempersiapkan perlengkapan untuk menghadapi orang Quraisy. Tsa’labah pun bergabung dengan kelompok tersebut dan ikut serta dalam Perang Badar.
Umat Muslim memenangkan perang tersebut dengan gemilang. Kemenangan yang tidak disangka karena berbeda dengan orang Quraisy, pasukan Islam minim senjata.
Sementara, kaum musyrikin mengumpulkan harta kekayaan dan mempersiapkan senjata yang lengkap agar mereka bisa meraih kemenangan pada perang tersebut (al-Anfaal:36-37). Tetapi, yang terjadi kelompok kafir hancur. Harta mereka habis dan mayat mereka dikumpulkan dalam satu lubang.
Tsa’labah menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya. Dia melihat bahwa harta itu tidak berguna sedikit pun dalam membela pemiliknya. Sayangnya, Tsa’labah ke mudian lupa akan pelajaran tersebut. Dia kembali pada harta dan kawanan ternaknya. Dia menggembalakannya, menggemukkan yang kurus, dan membesarkan yang kecil.
Harinya semakin sibuk seiring bertambahnya jumlah ternak yang dimilikinya. Mereka beranak pinak bak belatung hingga Madinah menjadi penuh sesak.
Akibatnya, dia dan ternaknya menyingkir dan tinggal di sebuah lembah dekat Madinah sehingga dia masih bisa shalat Zuhur dan Ashar dengan berjamaah. Sedangkan, shalat lainnya dilakukannya sendirian.




