REPUBLIKA.CO.ID, Jenjang pendidikan dasar dibatasi sampai empat tahun dan setelah itu bisa melanjutkan ke sekolah tingkat lanjutan.
Penguasa Turki Usmani juga mulai mewajibkan rakyatnya untuk sekolah dengan dinasionalisasikannya sistem pendidikan. Papan tulis, pensil, dan kotak pensil mulai digunakan dan kehadiran di sekolah diwajibkan.
Pada 1857, bersamaan dengan dibentuknya kementerian pendidikan, reformasi di bidang pendidikan dasar pun kembali digulirkan.
Pendidikan dasar digratiskan dan gaji guru dibayar oleh negara. Pada 1864, penguasa Turki Usmani membentuk Komisi Sekolah Dasar Muslim.
Kurikulum pun mulai disusun lebih baik. Di sekolah dasar mulai diajarkan beberapa pelajaran tambahan seperti seni menulis indah, kewarganegaraan, geografi, dan aritmatika.
Di setiap lingkungan atau desa paling sedikit diharuskan berdiri satu sekolah dasar. Bila dalam satu desa ada dua sekolah, satu sekolah digunakan untuk sekolah bagi anak laki-laki dan sekolah yang lain digunakan untuk anak perempuan.
Anak laki-laki diwajibkan masuk sekolah dasar mulai usia enam hingga 10 tahun. Sedangkan anak perempuan diharuskan mengenyam pendidikan dasar mulai umur tujuh hingga 11 tahun.
Sekolah dasar di era Turki Usmani tidak memungut biaya dari orang tua siswa. Sumber dana untuk operasional sekolah berasal dari wakaf, pajak lokal, zakat fitrah pada akhir Ramadhan, zakat harta, serta uang hasil penjualan kulit hewan kurban.
Sistem pendidikan dasar ini kembali mengalami perubahan pada 1869. Berdasarkan aturan itu, sekolah dasar ditata ulang dan berubah menjadi ibtidaiyah mulai 1870. Aturan itu tak hanya berlaku di Istanbul, tetapi juga di seluruh wilayah kekuasaan Kesultanan Turki Usmani.
Buku-buku baru untuk ibtidaiyah pun mulai disusun dan dipersiapkan. Buku-buku ibtidaiyah itu memang berbeda, baik secara isi maupun format.