REPUBLIKA.CO.ID, Di bagian tengah dinding kiblat, terdapat mihrab berceruk. Mihrab itu termasuk mihrab paling besar dan banyak dihiasi dengan ornamen dari batu pualam berwarna-warni.
Di samping mihrab berceruk, terdapat dua buah lempengan batu yang terpahat di atasnya tulisan dalam bahasa Arab yang artinya: “Tempat yang terbarakah ini direnovasi oleh Hasan Agha Khazindar Menteri Ibrahim Pasha oleh Al-Faqir Muhammad Tahun 1082 H”.
Pada mihrab berceruk ini, terdapat dua pintu yang tembus ke bagian kubah yang terdapat di belakang mihrab. Daun pintu tersebut dilapisi oleh tembaga yang dicampur dengan emas dan perak.
Adapun kubah pada bagian belakang dinding kiblat berbentuk persegi empat dengan tinggi rusuknya sekitar 21 meter dan ketinggiannya hingga mencapai 48 meter.
Kubah tersebut dihiasi dengan untaian ayat kursi dengan model naskhi yang ditulis di atas kayu dan diakhiri dengan tanggal penyelesaian pembuatan kubah ini pada tahun 764 H/1363 M.
300 nyawa dan kematian sang sultan
Setelah Al-Nasir Muhammad meninggal pada 1341 M, Mesir mengalami kekacauan politik dan sosial. Mesir dan Suriah saling bersaing dalam bidang ekonomi sehingga berdampak negatif pada bidang sosial.
Anak ketujuh Al-Nasir Muhammad, Hassan, diangkat menjadi sultan meskipun baru berusia sebelas tahun pada musim panas 1347 M dengan dewan (junta) para amir menguasai administrasi dan keuangan kerajaan.
Empat tahun kemudian, Hassan diberhentikan dan Salih, anak Al-Nasir Muhammad lainnya dijadikan sultan. Salih sendiri diberhentikan tiga tahun kemudian dan Hassan kembali naik takhta.
Selama pemerintahan kedua antara 1354 hingga 1361, Hassan semakin tidak populer karena sangat kikir pada orang-orang Mamluk. Di lain pihak, ia memboroskan kekayaan negara untuk membangun kompleks makamnya yang sangat besar.




