REPUBLIKA.CO.ID, Dakwah kultural semacam itu juga dilakukan oleh Sunan Drajat melalui tembang Jawa ciptaannya yang hingga kini masih digemari, yaitu tembang pangkur.
Sementara Sunan Bonang menghasilkan Suluk Sunan Bonang atau primbon Sunan Bonang, yaitu catatan-catatan pendidikan yang dituangkan dalam bentuk prosa.
Setelah penduduk tertarik, mereka diajak membaca syahadat, diajari wudhu, shalat, dan sebagainya. Walisongo dikenal sangat peka dalam beradaptasi. Cara mereka menanamkan akidah dan syariat Islam sangat memerhatikan kondisi masyarakat setempat.
Misalnya, kebiasaan berkumpul dan kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian keluarga tidak diharamkan, tapi sebaliknya acara tersebut diisi dengan pembacaan tahlil, doa, dan sedekah.
Demikian juga dengan penggunaan istilah. Sunan Ampel yang dikenal sangat hati-hati, misalnya, menyebut shalat dengan 'sembahyang' yang berasal dari kata sembah dan hyang. Dia juga menamai tempat ibadah dengan langgar, yang mirip dengan kata sanggar.
Bangunan masjid dan langgar pun dibuat bercorak Jawa dengan ciri khas genteng bertingkat-tingkat. Bahkan, di antara bangunan masjid tersebut memadukan corak bangunan Hindu, seperti Masjid Agung Kudus yang dilengkapi dengan menara dan gapura bercorak Hindu.
Selain itu, untuk mendidik calon-calon dai, Walisongo mendirikan pesantren-pesantren, yang menurut sebagian sejarawan, mirip padepokan-padepokan orang Hindu dan Budha untuk mendidik calon pemimpin agama.




