REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Hubungan Sriwijaya dengan dunia Islam ternyata telah terjalin sejak awal abad ke-8 Masehi. Bukti sejarah yang terekam dalam sumber-sumber Arab menunjukkan Maharaja Sriwijaya pernah mengirim dua pucuk surat kepada Khalifah Muawiyah dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, salah satunya berisi permintaan agar dikirim seorang ulama untuk mengajarkan Islam di kerajaannya.
Prof. Azyumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII menjelaskan, surat pertama atau lebih tepatnya bagian pendahuluan surat, dikutip oleh al-Jahizh (Amr al-Bahr, 163–255 H/783–869 M) dalam karya terkenalnya Kitab al-Hayawan, berdasarkan tiga isnad yang dinilai tepercaya. Al-Jahizh memperoleh informasi mengenai surat Maharaja yang ditujukan kepada Khalifah Muawiyah (41 H/661 M) dari al-Haytsam bin Adi (114–207 H/732–822 M). Al-Haytsam mendengarnya dari Abu Ya'qub al-Tsaqafi, yang selanjutnya memperoleh informasi tersebut dari Abd al-Malik bin Umayr (33–136 H/653–753 M). Abd al-Malik mengaku pernah melihat surat itu di diwan (sekretariat) Muawiyah setelah khalifah tersebut wafat.
Sayangnya, al-Jahizh hanya mengutip bagian pembukaan surat itu sehingga isi lengkap surat tersebut tidak diketahui. Meski demikian, pendahuluan surat tersebut memiliki gaya yang khas sebagaimana lazim ditemukan dalam surat-surat resmi para penguasa Nusantara.
Setelah memaparkan rangkaian isnad tersebut, al-Jahizh kemudian meriwayatkan bagian pembukaan surat itu:
"(Dari Raja al-Hind-atau tepatnya Kepulauan India) yang kendang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani seribu putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar (Batanghari dan Musi), yang mengairi pohon gaharu (aloes), kepada Mu'awiyah . . . ."