Rabu 05 Sep 2012 21:24 WIB

Frithjof Schuon, Terpikat pada Filsafat Islam (4)

Rep: Nidia Zuraya/ Red: Chairul Akhmad
Frithjof Schuon
Foto: frithjofschuon.com
Frithjof Schuon

Gagasan Agama Abadi

Frithjof Schuon dikenal luas sebagai seorang tokoh terkemuka dalam bidang religio perennis (agama abadi).

Ia menegaskan prinsip-prinsip metafisika tradisional, mengeksplorasi dimensi-dimensi esoteris agama, menembus bentuk-bentuk mitologis dan agama, serta mengkritik modernitas.

Schuon, sebagaimana dipaparkan Adnin Armas MA dalam tulisannya yang bertajuk “Pluralisme Agama dan Gerakan Freemason”, juga mengangkat perbedaan antara dimensi-dimensi tradisi agama eksoteris dan esoteris, sekaligus menyingkap titik temu metafisika antarsemua agama ortodoks.

Ia mengungkap, satu-satunya Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas, dan Mahasempurna. Ia menyeru supaya manusia dekat kepada-Nya. Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, yakni Allah SWT.

Dalam pandangan Schuon, dogma, hukum, moral, dan ritual agama adalah berbeda. Ia berpendapat agama-agama mengandung dimensi eksoteris dan esoteris. Kedua dimensi ini yang inheren dalam agama berasal dari dan diketahui melalui intelektual.

Menurut Schuon, secara psikologis, ego manusia terkait dengan badan, otak, dan hati. Jika badan diasosiasikan dengan eksistensi fisik, otak dengan pikiran, hati dengan intelektual.

Jika dikaitkan dengan realitas, intelektual dapat diasosiasikan dengan esensi Tuhan (Yang Satu) dan langit (alam yang menjadi model dasar), sedangkan pikiran dan badan meliputi dunia fisik, terestrial. Intelektual dalam hal ini sangat penting karena otak dan badan di bawah kendali dan berasal dari intelektual.

Intelektual adalah pusat manusia (the centre of human being), yang bersemayam di dalam hati. Kualifikasi intelektual harus didampingi dengan kualifikasi moral. Jika tidak, secara spiritual, intelektual tidak akan berfungsi.

Hubungan antara ‘intelektualitas’ dan ‘spiritualitas’ adalah bagaikan hubungan antara pusat dan pinggiran. Intelektualitas menjadi spiritualitas ketika manusia sepenuhnya hidup di dalam kebenaran.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement