Sabtu 01 Sep 2012 21:31 WIB

Thabit Ibnu Qurra, Si Jenius Pendiri Ilmu Keseimbangan (2)

Rep: Heri Ruslan/ Red: Chairul Akhmad
Akikah (ilustrasi).
Foto: blogspot.com
Akikah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Perlahan namun pasti, anggota sekte Sabian pun mulai memeluk Islam. Mereka pun mulai menggunakan bahasa Arab mengganti bahasa Yunani.

Sejumlah dokumen menyebutkan, di usia muda, Thabit berprofesi sebagai pedagang penukaran mata uang.

Ini menunjukkan bahwa Thabit berasal dari keluarga berada dan berpengaruh di komunitasnya. Sejak muda, Thabit dikenal sangat cerdas. Ia menguasai bahasa Arab, Yunani, dan Syriac.

Suatu hari, seorang ilmuwan terkemuda dari Baghdad, Muhammad Ibnu Musa ibnu Shakir, berkunjung ke Harran. Ia sungguh terkagum-kagum dengan pengetahuan bahasa yang dikuasi Thabit muda. “Sungguh seorang anak muda yang sangat potensial,” puji Ibnu Musa.

Sang ilmuwan pun kemudian menyarakan agar Thabit hijrah ke Baghdad— kota metropolis intelektual. Ibnu Musa memintanya agar mau belajar matematika pada dirinya dan saudaranya. Tawaran itu tak disia-siakan Thabit. Ia pun hijrah meninggalkan tanah kelahirannya untuk menimba ilmu matematika dan belajar kedokteran di Baghdad.

Setelah menamatkan pendidikannya, dia sempat kembali ke kota kelahirannya, Harran. Sayangnya, dia harus berhadapan dengan pengadilan lantaran pemikirannya yang dianggap berbahaya. Guna menghindari hukuman, Thabit pun lari ke Baghdad.

Di pusat pemerintahan Abbasiyah itu, dia mengabdikan dirinya sebagai astronom istana. Thabit pun berada dalam lindungan Khalifah Al-Mu’tadid—salah seorang khalifah Abbasiyah yang terkemuka.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement