Senin 06 Aug 2012 07:15 WIB

Jejak Peninggalan Islam di Indonesia (1)

Rep: Nidia Zuraya/ Red: Chairul Akhmad
Peta Kerajaan Aceh tempo dulu (ilustrasi).
Foto: wordpress.com
Peta Kerajaan Aceh tempo dulu (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Kawasan Asia Tenggara sejak awal Masehi telah berfungsi sebagai jalur lintas perdagangan bagi kawasan sekitarnya, Asia Timur dan Asia Selatan.

Dari kawasan Asia Selatan, hubungan pelayaran antarbenua terus berlanjut ke Barat sebelum akhirnya mencapai Eropa.

Melalui jalur perdagangan ini, dalam bukunya yang bertajuk “Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia”, Prof Dr Hasan Muarif Ambary memaparkan bahwa kawasan Asia Tenggara pada abad-abad berikutnya, ketika perdagangan memasuki era globalisasi di abad ke-5 Masehi (M), menjadi lebih ramai dengan hadirnya berbagai pedagang dan pelaut yang biasa berlayar melalui wilayah tersebut.

Sebagai dampak dari hubungan antarbangsa ini, beberapa bandar di Asia Tenggara—seperti bandar-bandar di Burma, Thailand, Semenanjung Malaysia, dan Nusantara—berubah fungsi menjadi bandar regional.

Berbeda dengan Hasan Muarif Ambary, Ahmad Mansur Suryanegara, dalam bukunya “Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam di Indonesia”, mengutip dari TW Arnold dari karyanya “The Preaching of Islam; A History of the Propagtion of the Muslim Faith”, menyatakan, sebenarnya jauh sebelum masehi atau sekitar abad ke-2 SM, penduduk nusantara sudah menjalin hubungan dengan pedagang lainnya, baik dari Arab, Persia, maupun lainnya.

Bahkan, KH Abdullah bin Nuh, ulama pejuang asal Cianjur, juga mengemukakan hal serupa, tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Disebutkan, pada abad ke-2 SM, pedagang Arab sudah menguasai perdagangan hingga ke Kepulauan Ceylon (Srilanka).

Sedangkan menurut DH Burger dan Prajudi Atmosudiro, sebagaimana dikutip Ahmad Mansur Suryanegara, hubungan pedagang Indonesia dengan Cina dan India baru dimulai pada abad ke-1 Masehi.

Sedangkan hubungan Arab dengan Cina jauh lebih lama. Dan, Islam masuk ke Cina, pada abad ke-7 atau awal Hijriah, yang dibawa oleh Saad bin Abi Waqqash.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement