REPUBLIKA.CO.ID, Sisilia adalah tempat pertemuan dua peradaban. Dikuasai oleh orang-orang Arab tahun 831, pulau ini dalam kendali Muslim sampai akhir abad 11.
Selama rentang waktu tiga abad, orang-orang Arab Muslim membangun bendungan, sistem irigasi, waduk dan menara air, memperkenalkan tanaman baru seperti jeruk dan lemon, kapas, kurma, dan beras.
Pada awal abad ke-11, sekelompok tentara Norman yang dipimpin oleh Roger berkuda ke selatan Italia untuk merebut Sisilia dari orang-orang Arab Muslim.
Pada tahun 1101 Roger berhasil menaklukkan Sisilia. Empat tahun kemudian, ia mewariskan Sisilia pada anaknya, Roger II, pada tahun 1130.
Tinggi, berambut gelap, berjanggut dan gemuk, Roger II, memerintah kerajaannya dengan bijaksana. Ia dikenal sebagai filsuf, matematikawan, dokter, ahli geografi, dan penyair.
Pada tahun 1138, di istana kerajaan Palermo, Sisilia, Roger II mengadakan pertemuan dengan seorang cendikiawan Muslim terkemuka.
Saat cendikiawan Muslim itu memasuki aula, sang raja bangkit, dan membawanya melintasi marmer berkarpet untuk menduduki tempat terhormat di samping raja. Cendikiawaan Muslim itu diminta datang dari Afrika Utara untuk membahas peta dunia.
Cendikiawan Muslim tersebut yang merupakan ahli geografi bernama Muhammad Al-Idrisi. Ia lahir di Ceuta, Maroko. Setelah belajar di Cordoba, Spanyol, ia melakukan beberapa tahun perjalanan meliputi sepanjang Mediterania, Lisbon hingga ke Damaskus.
Pada pertemuan itu, Roger II meminta Al Idrisi untuk membantu pembuatan peta yang saat itu masih simbolik dan hanya berdasarkan pada tradisi dan mitos ketimbang penyelidikan ilmiah. Roger II ingin membuat sebuah peta dunia dengan menampilkan garis pantai, tanjung, teluk, perairan dangkal, dan pelabuhan.
Dimulai dengan Akademi Geografi
Keinginan Roger II untuk membuat peta ia percayakan kepada Al-Idrisi. Untuk melaksanakan proyek tersebut, Roger II mendirikan sebuah akademi geografi dengan dirinya sebagai direktur dan Al-Idrisi sebagai sekretaris. Roger II ingin tahu kondisi yang tepat dari setiap daerah, iklim, jalan, sungai-sungai, dan laut dunia luar.
Akademi geografi tersebut dimulai dengan mempelajari dan membandingkan karya-karya geografi sebelumnya dari 12 cendikiawan yang 10 diantaranya adalah Muslim.




