Selasa 14 Feb 2012 20:52 WIB

Inisiasi Spiritual (2-habis)

Air mata tobat (ilustrasi).
Foto: Wordpress.com
Air mata tobat (ilustrasi).

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Inisiasi sesungguhnya lebih merupakan terapi kaget (shock theraphy) untuk hijrah ke dalam suasana batin yang baru. Ikrar atau baiat yang baru saja dijalaninya merupakan peristiwa simbolik untuk lahir kembali (reborn), dari gelapnya lumuran dosa dan maksiat.

Kini ia merasa terlahir kembali seperi bayi yang tanpa beban, bersih, ringan, putih, pasrah, tenang, damai, indah, bahagia, plong, cerah, dan bebas dari beban masa lampau.

Dua kalimat sakral yang baru diucapkan itu memang didasari oleh jaminan Nabi, “Perbaharuilah keimanan kalian dengan bersyahadat ulang.” Allah juga menjamin pengampunan dosa secara total (fagfir al-dzunuba jami’an) bagi orang yang telah menjalani pertobatan khusus (taubatan nashuha).

Sebesar apa pun dosa sebelumnya, ia merasa plong dengan inisiasi yang baru saja dilakukannya dengan penuh keterharuan, yang biasanya disertai dengan linangan air mata. Mereka merasa optimis dengan menatap ke depan, karena hadis Nabi, “Air mata taubat menghapuskan api neraka.” dan “Jeritan taubatnya para pendosa lebih disukai Tuhan ketimbang gemuruh tasbihnya para ulama.”

Kini ia semakin sadar dan sensitif serta sudah mampu mendeteksi perbedaan antara kecenderungan yang haq atau bathil dan antara bisikan iblis dan bisikan malaikat. Sebelumnya, ia masih sulit membedakan mana kecenderungan haq mana yang bathil, mana bisikan iblis dan mana bisikan malaikat, karena keduanya larut di dalam dirinya bagaikan air dengan teh.

Setelah menjalani tradisi baru, ia merasakan lembaran baru dalam kehidupannya. Antara haq dan bathil dan bisikan iblis dan bisikan malaikat dirasakannya sudah jelas, seperti jelasnya perbedaan antara air dan minyak. Keduanya tidak lagi menyatu secara utuh di dalam dirinya.

Sikap dan persepsinya terhadap Tuhan juga sudah jauh berubah. Sebelumnya, ia terbebani dengan doa. Doa-doa yang tidak dikabulkan menjadi beban batin baginya karena seringkali dihubungkan dengan pertanyaan nakal dalam jiwanya tentang keberadaan Tuhan. Kenapa ia yang berdoa kepada-Nya tetapi dijawab dengan kekecewaan. Sementara orang yang tidak pernah berdoa, bahkan bergelimang dosa tetapi hidupnya melimpah dan berkecukupan.

Kini ia semakin sadar dengan sabda Nabi, “Doa adalah jantungnya ibadah.” Ia tidak lagi salah paham terhadap doa-doanya yang tertolak. Ia bahkan sangat sadar bahwa penerimaan doa bisa berarti penerimaan baginya, dan penerimaan doa berarti penolakan baginya.

Ia lebih takut kalau daftar panjang doa-doanya dikabulkan justru akan melahirkan penolakan dirinya, karena perhatian tidak lagi tertuju pada Tuhan tetapi habis waktu mengkonsumsi hasil-hasil doanya. Ia bersyukur jika doa-doanya ditolak karena ia yakin pasti itu akan membahayakan kelanggengan hubungan mesra dengan Tuhannya.

Akhirnya, doa baginya sudah semakin pendek karena ditenggelamkan oleh munajatnya. Ia lebih sibuk naik ke atas ketimbang memohon rahmat lebih banyak turun ke bawah. Untuk apa rahmat lebih banyak turun dari-Nya, jika ia sendiri tidak bisa naik karena rahmat itu. Ia lebih memilih untuk naik ke atas ketimbang rahmat-Nya turun ke bawah.

Lama kelamaan yang bersangkutan tidak lagi ridha dengan surga dan tidak juga takut dengan neraka. Masihkah seseorang butuh surga atau takut neraka jika seseorang sudah menyatu dengan pencipta surga dan neraka itu. Mungkin ia akan berteriak, "Ambillah surga itu, aku cukup dengan Tuhanku!"

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement