REPUBLIKA.CO.ID, Di kota itu pula terdapat Akademi Gundishapur, yaitu tempat keperawatan modern diajarkan. Pada abad ke-13 dan ke-14 M, Ahwaz dihancurkan oleh invasi bangsa Mongol. Kota tersebut kemudian berpindah ke tepi sungai. Dam-dam dan irigasi tidak lagi dirawat sehingga tidak berfungsi lagi sampai akhirnya hancur pada awal abad ke-19.
Selama masa itu, Ahwaz dihuni oleh orang-orang Arab dan sejumlah orang Sabian. Mereka masih mengembangkan budaya kecil-kecilan. Reruntuhan pabrik tebu masih bisa dilihat pada masa itu meskipun semua bukti adanya perkebunan tebu sudah lenyap.
Pada masa kejayaan Islam, ibu kota Khuzestan terletak di Shustar, hingga akhir periode Kerajaaan Qajar. Dengan meningkatnya perdagangan laut, Ahwaz pun dipandang lebih layak sebagai ibu kota provinsi. Sungai Karun dapat dilayari dari berbagai arah menuju Ahwaz.
Raja Qajar, Nasir al-Din Syah, memerintahkan untuk membangun kembali kota tersebut dan menamakan sesuai namanya, Naseri. Shustar semakin meredup sementara Ahvaz berkembang dengan pesat. Pada abad ke-19, Ahwaz hanyalah sebuah kota kecil yang dihuni oleh mayoritas penduduk Arab dan sebagian kecil Sabean.
Pada tahun 1880-an di bawah pemerintahan Qajar, Sungai Karun dikeruk dan dibuka untuk perdagangan. Jalur kereta dibuat di Ahwaz melalui Sungai Karun. Kota ini menjadi persimpangan komersial yang menghubungkan lalu lintas sungai dan kereta api.
Pembangunan Terusan Suez mendorong perdagangan di wilayah tersebut. Sebuah pelabuhan dibangun di dekat kota tua Ahvaz dan diberi nama Bandar-e-Naseri, untuk menghormati Raja Qajar.
Minyak ditemukan di dekat Ahvaz, tepatnya di Abadan, pada awal abad ke-20. Hal ini membuat kota tersebut tumbuh semakin pesat akibat penemuan kekayaan alam ini. Dari tahun 1897 hingga 1925, Syekh Khaz’al mengontrol area tersebut dan mengganti namanya menjadi Naseri. Namun pada periode pemerintahan Pahlevi nama tersebut dikembalikan ke asalnya, Ahwaz.
Pada 1980, Ahwaz diserang oleh pasukan Irak yang ingin menduduki Abadan. Ahwaz berada di garis depan provinsi Khuzestan, sehingga menjadi daerah yang diserang pertama kali. Kota itu sangat menderita selama perang antara dua negara bertetangga itu berlangsung.
Irak mengklaim Khuzestan sebagai wilayah bagiannya karena kebanyakan penduduk daerah tersebut berbicara bahasa Arab, bukan Persia yang merupakan bahasa dominan di Iran. Namun banyak laporan yang menyebutkan bahwa orang-orang Arab tersebut bukannya mendukung tindakan Irak yang dianggap sebagai ‘pembebasan’ tersebut, tetapi justru melawan mereka.
Namun ada pula sekelompok orang Arab-Iran yang mengklaim mereka menghadapi diskriminasi dari pemerintah pusat. Mereka meminta hak untuk mempertahankan perbedaan budaya dan bahasa mereka dan lebih banyak otonomi provinsi.
Perang menyebabkan provinsi tersebut mengalami kehancuran, termasuk kilang minyak Abadan. Banyak korban yang mengungsi ke daerah lain di Iran. Irak dapat mengalahkan tentara Iran namun tidak mampu menguasai daerah tersebut hingga perang berakhir.