Kamis, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Kamis, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Malcolm di Makkah

Ahad 24 Feb 2019 14:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Malcom X

Malcom X

Foto: Malcomx.com
Perubahan sikap Malcolm X selepas haji berperan dalam kehidupan banyak orang.

Wahai manusia ! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu (Nabi Adam). Ingatlah. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang ajam (non-Arab) dan bagi orang ajam atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan. (HR Imam Ahmad).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fitriyan Zamzami, Wartawan Republika

JAKARTA -- Bahkan sejak mula-mula penyebarannya, kesetaraan ras adalah satu hal yang kerap ditekankan dalam Islam. Tak hanya dalam teori, berbagai riwayat juga menggambarkan demikian dalam praktiknya.

Abdullah bin Mas'ud meriwayatkan dan dikutip dalam Sunan ibn Majjah salah satu pemeluk awal Islam adalah Sumayyah binti Khabbat, seorang budak perempuan dari Etiopia milik Bani Makhzum. Ia masuk Islam bersama Yasir bin Amir suaminya yang merupakan imigran dari Yaman, dan putra mereka Amar.

Selanjutnya, ada juga Suhaib dari Romawi. Dikisahkan berkulit putih kemerahan dan berambut pirang ia bekas budak kerajaan Bizantium yang melari kan diri ke Makkah dan langsung masuk Is lam begitu mendengar ajaran Rasulullah. Bilal bin Rabah, seorang budak blasteran Arab-Ethiopia milik Umayyah bin Khalaf juga memeluk Islam. Ia seorang pria berkulit hitam yang tampan dan tinggi serta memiliki suara yang dalam dan bergetar saat berbicara.

Dalam rangkaian ibadah haji dan umrah, kesan kesetaraan itu makin kental terasa. Di sekeliling Ka'bah, perempuan dan laki-laki segala suku berbaur. Pria Eropa berjenggot pirang berkulit kemerahan berjalan berdampingan dengan seorang Afrika sewarna kayu jati.

Seorang Tionghoa berambut putih yang berjalan terbungkuk-bungkuk karena usia, bersisian dengan bocah Arab yang lincah berlari ke sana dan sini. Seluruhnya berjalan mengitari pivot sembari berzikir tanpa henti mengagungkan nama-Nya.

Puncak musim haji, saat padang Arafah dibanjiri jutaan jamaah berihram, juga menjadi pemandangan yang menggetarkan dan mengaduk-aduk perasaan. Berada di keramaian sebegitu, di antara rerupa warna kulit, paras wajah yang berbeda-beda, dan aneka bahasa asing, siapa juga bakal tersentak dan kagum.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA