Wednesday, 4 Jumadil Awwal 1443 / 08 December 2021

Wednesday, 4 Jumadil Awwal 1443 / 08 December 2021

Marc Springer: Islam Hilangkan Kebingunganku

Rabu 10 May 2017 18:13 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Mualaf (ilustrasi)

Foto:


Islam, di mata Marc, memiliki semua jawaban. Islam membersihkan kebingungan tentang keyakinannya yang lama. Islam juga menghormati seluruh nabi dan mengenalkan mereka sebagai orang-orang hebat. Islam mengajarkan nilai-nilai, Marc juga mendapat semua jawaban dan masa depan manusia.

Perkenalannya dengan Islam yang semakin dalam itu menghadapkannya pada sebuah dilema, yaitu ia harus berhadapan dengan sang istri. Marc sadar betul, begitu ia bersyahadat, akan ada masalah yang terjadi. Akhirnya, ia pun berpisah dengan istrinya.

Sebelum pindah dari Inggris, di sebuah masjid sudut Kota London, Marc berikrar syahadat dengan bantuan teman dari Lebanon. Setelah berpisah dari istri dan berislam, Marc mendapatkan pekerjaan dari Pemerintah AS di Alaska.

Namun, ia tidak banyak menemui komunitas Muslim di Alaska, baik di Kota Anchorage maupun Fairbanks. Marc bekerja ratusan mil dari salah satu kota tersebut.

Ia kembali belajar memahami Islam dengan membaca baik dari internet maupun sumber lainnya. Untuk memenuhi dahaganya tentang Islam, ia sesekali menyempatkan pergi ke Washington DC berkumpul dengan komunitas Muslim di sana.

Satu keinginan Marc setelah berislam adalah mempunyai pasangan yang sama keyakinan. Ia sempat berpikir, mertua mana yang akan menerima pria mualaf dan bertato.

Akan tetapi, ia tak patah semangat dan terus berdoa. Hingga akhirnya, ia dikenalkan dengan dengan perempuan Muslimah asal Arab Saudi. Keduanya memutuskan berkenalan secara syar'i setelah sebelumnya berkomunikasi melalui e-mail.

Marc berkunjung ke rumah keluarga besar perempuan tersebut. Hingga detik itu, ia sempat berpikir akan ditolak. Setelah tiba di Washington, naik taksi dan setibanya di depan rumah si perempuan, ia dengan penuh pasrah menekan bel dan membaca bismillah. Pintu terbuka. Tampak sekitar 12 orang menyambut Marc dengan penuh kehangatan.

Setelah pertemuan pertama dengan keluarga besar, ia kembali ke Washington, dan pada Januari mereka menikah yang dihadiri keluarga dan teman saja.  "Subhanallah, bagaimana Allah SWT telah menuntun saya dari ketidakpercayaan di rumah yang penuh kebencian, kemudian membimbing saya," kata Marc.ed: nashih nashrullah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA