Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Teknologi Peledak Dalam Islam (1)

Kamis 27 Mar 2014 16:38 WIB

Red: Chairul Akhmad

Ilustrasi

Ilustrasi

Foto: Wikipedia.org

Oleh: Ani Nursalikah

Tentara Ottoman secara teratur menggunakan senjata dan meriam pada 1421-1422.

Bubuk mesiu tiba di Timur Tengah, mungkin melalui India dari Cina. Para ahli kimia Arab mengenal potassium nitrat sejak masa ilmuwan Khalid bin Yazid. Potassium nitrat digunakan sebagai campuran pembuatan bubuk mesiu.

Selama berabad-abad potassium nitrat dikenal dengan berbagai nama, di antaranya natrun, buraq, bihi al-ha’it, shura, shuraj, milh al-dabbaghin, (penyamak garam), shabb Yamani dan barud.

Potassium nitrat digunakan sebagai fluks dalam operasi metalurgi. Selain itu, juga digunakan untuk memproduksi asam nitrat dan aqua regia. Resep untuk campuran tersebut bisa ditemukan dalam karya Jabir bin Hayyan dan Abu Bakr al-Razi.

Meski bangsa Cina adalah yang pertama menemukan bubuk mesiu dan memakainya dalam kembang api, bangsa Arab yang menemukan mesiu yang dapat dimurnikan. Hal ini tersirat dari penggunaan istilah oleh Hasan al-Rammah yang menunjukkan dari mana mesiu berasal.

Mesiu disebut dengan ‘salju Tionghoa’, kembang api disebut dengan ‘bunga Cina’ dan roket sebagai ‘panah Cina’. Hasil pemurnian itu digunakan dalam bidang militer.

Agar dapat digunakan secara efektif dalam mesiu, potassium nitrat harus dimurnikan. Ada dua proses yang ditemukan dalam literatur Arab. Pertama, proses yang diperkenalkan Ibnu Bakhtawayh pada awal abad ke-11. Ia menggambarkan air bisa dibekukan dalam setiap musim dengan menggunakan shabb Yamani (potassium nitrat).

Pada abad ke-13 atau 1270, al- Rammah dari Suriah menjelaskan proses lengkap pemurnian potassium nitrat dalam bukunya Al-furusiyya wa al-Manasib al-Harbiyya (Kitab Militer dan Alat Perang Cerdik). “Ambil barud yang putih dan bersih sebanyak yang disukai dan siapkan dua guci tanah liat."

"Masukkan barud dan air, kemudian panaskan dengan api kecil. Buang buih yang muncul. Panaskan terus hingga berubah menjadi cairan bening. Kemudian, tuangkan cairan bening ke dalam tabung lain sedemikian rupa sehingga tidak ada sedimen atau ampas yang terbawa."

"Panaskan lagi dengan api kecil sampai mengental. Setelah itu digiling sampai halus,” tulis al-Rammah dalam bukunya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA