Tuesday, 22 Syawwal 1440 / 25 June 2019

Tuesday, 22 Syawwal 1440 / 25 June 2019

Harap dan Takut

Ahad 26 May 2019 12:48 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: alifmusic.net
harap dan takut bak dua sayap yang membuat seseorang terbang ke tingkatan terpuji.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Syekh Jamaludin al-Qasimi dalam Saripati Ihya Ulumuddin menjelaskan, harap dan takut bak dua sayap yang membuat seseorang terbang ke tingkatan terpuji. Keduanya pun menjadi kendaraan untuk melalui setiap rintangan menuju akhirat.

Lewat harap kita dituntun untuk mendekat dengan Sang Maha Pengasih. Sebaliknya, adanya ketakutan membuat kita terhalau dari neraka jahim. Para pemilik hati telah mengetahui jika dunia adalah la dang akhirat. Hati ibarat tanah, sedangkan iman seperti benih tanaman. Hari kiamat pun men jadi waktu panennya. Tidaklah seorang pun memanen kecuali apa yang telah ditanamnya.

Rasa harap seorang hamba akan ampunan dianalogikan dengan rasa harap pemilik tanam an. Untuk mencari tanah yang subur, setiap orang harus menebarkan benih yang baik dan tidak berpenyakit. Dia juga harus memberi benih itu semua kebutuhannya. Pemilik tanaman itu harus menyiram air pada waktunya. Dia pun mesti membersihkan duri-duri dan rumput dari tanah, termasuk segala sesuatu yang bisa menghalangi pertumbuhan dan merusak benih itu

Setelah semua upayanya maksimal, dia pun bisa duduk seraya menantikan karunia Allah berupa terhindarnya petir dan berbagai penyakit yang merusak tanaman. Sampai tanaman itu tumbuh dan mencapai puncak pertumbuhannya.

Penantian itu pun disebut dengan harapan. Pada kondisi lain, dia menyebar benih di tanah keras lagi tan dus. Dia pun enggan menyirami tanaman itu dengan air dan meng abaikan perawatan. Namun, dia ikut menantikan panen dari benih tanaman itu. Penantiannya pun disebut dengan kedunguan dan ketertipuan. Bukan harapan.

Terkadang, dia menaburkan benih di tanah yang subur, tetapi tidak diairi. Dia hanya menunggu air hujan tiba. Namun, ketika hu jan tidak turun, benihnya mati ka rena tak mendapat air. Semen tara, dia terus menanti. Penantiannya disebut dengan anganangan. Sebutan harapan sejatinya untuk penantian sesuatu yang diinginkan. Namun, seluruh sebabnya termasuk ikhtiar seorang hamba telah disiapkan. Apa yang tersisa adalah karunia Allah Ta'ala.

Bukankah Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan (orangorang) yang berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah." (QS Al Baqarah: 2).

Mereka pan tas untuk mengharapkan rahmat Allah karena Allah juga berfirman, "Sesungguhnya orangorang yang selalu membaca kitab Allah serta mendirikan shalat dan mengeluarkan infak dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka diam-diam dan terang-terangan, mereka itu meng harapkan perniagaan yang tidak akan merugi," (QS Fatir: 29).

Sebaliknya, barang siapa yang menjerumuskan diri ke dalam hal yang dibenci Allah SWT, dia pun tidak bertekad untuk bertobat kembali atas kezalimannya itu. Harapannya itu tak ubah seperti orang yang menyebarkan benih di tanah tandus. Dia pun tak mau merawat benihnya de ngan pengairan dan pembersihan. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA