Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Puasa Itu Menyuburkan Rohani (1)

Selasa 21 May 2019 16:13 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali

Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali

Foto: Nusantara Foundation
Puasa berarti melatih sisi rohani manusia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Shamsi Ali *)

Baca Juga

"Mankind is a spiritual being in a physical body.”

Kalau seandainya saya ditanya tentang defenisi manusia maka jawaban saya kira-kira seperti di atas. Bahwa manusia itu adalah wujud spiritualitas dalam sebuah bentuk fisikal.

Intinya adalah bahwa nilai (value) sejati manusia itu ada pada posisi ruhiyahnya. Kemuliaan, kehormatannya ditentukan oleh  nilai spiritualitasnya.

Kalau sekiranya manusia bangga karena fisiknya maka sudah pasti gajah, kerbau atau sapi pantas lebih bangga darinya. Kalau kekuatan fisiknya boleh jadi seekor harimau akan lebih bangga karena memang lebih kuat.

Karenanya sekali lagi, nilai kemanusian (human value) manusia ada pada aspek ruhiyah kehidupannya.

Jika penciptaan jasad manusia terbuat dari tanah liat (thiin). Maka eksistensi “ruh” manusia langsung dari tiupan ruh Ilahi (nafakha fii min ruhina).

Oleh karena ruh adalah tiupan ruh Ilahi, maka ruh inilah yang nanti pada akhirhya kembali ke asalnya, kembali menghadap Allah SWT. Sementara fisiknya akan kembali pula bersatu dengan asalnya di tanah.

Jika fisik berakhir dengan kebusukan dan kehancuran, maka ruh yang yang terjaga, mulia selamanya.

Hakekatnya sebagai pemberian Allah yang khusus kepada manusia, menjadikan ruh rahasia yang tiada tahu kecuali Allah SWT sendiri. “Dan katakan sesungguhnya ruh itu adalah urusan Allah” (Alquran).

Sedemikian mulianya ruh manusia maka Islam sebagai agama kehidupan, elemennya mengandung aspek “spiritual nourishment” (makanan ruh). Dari ibadah-ibadah ritual hingga ke aspek-aspek muamalatnya, semuanya mengandung unsur ruhiyah.

Ketika akan makan atau tidur misalnya, doa yang dipanjatkan semuanya bermuara langit (Allah). Makan meminta “barokah”. Dan barokah itu ada di tangan Allah yang “Tabaaraka.” 

Tidur juga atas namaNya Allah (bismika). Keduanya bukan sekedar aktifitas duniawi yang hampa ruhiyah. Tapi terikat dengan nilai-nilai samawi yang sarat dengan kandungan ruhiyah.

Jangankan makan dan tidur, hubungan suami isteri pun tidak lepas dari nilai-nilai ruhiyah itu. Sehinggga disebutkan bahwa hubungan yang tidak dimulai dengan doa  perlindungan dari setan, maka orang itu akan dipengaruhi oleh setan.

Bahkan, masuk-keluar WC sekalipun semuanya memiliki nilai-nilai ruhiyah karena bersentuhan langsung dengan nilai-nilai samawi. Meminta perlindungan dari setan “Allahumma inni auzdu bika minal khubutsi wal khabaaits” itu memiliki makna ruhiyah yang dalam.

Apalagi aspek ritual agama ini. Dari sholat, puasa , haji dan ragam bentuk ibadah ritual, semuanya secara mendasar dimaksudkan untuk menumbuh suburkan nilai-nilai ruhiyah manusia. Karena, pada semua amalan itu zikirlah yang menjadi esensi dasarnya.

Shalat yang kosong dari dzikir (mengingat Allah)  dikategorikan oleh Al-Quran sebagai shalat kemunafikan. Bahkan terancam dengan neraka wael.


New York, 20 Mei 2019

*) Penulis adalah Presiden Nusantara Foundation

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA