Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Sukidi, Doktor Baru Muhammadiyah Dari Harvard University

Rabu 15 May 2019 14:33 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Universitas Harvard Amerika.

Universitas Harvard Amerika.

Foto: Google.com
Sukidi Mulyadi aktivis Muhammadiyah lulus doktor dari Harvard University

Oleh: Andar Nubowo, Aktivis Muhammadiyah dan Reseach Fellowship di S Rajaratnam School of Internasional Studies

Hari ini saya mendapat kabar gembira bahwa kawan sekaligus senior saya di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Persyarikatan Muhammadiyah, Sukidi Mulyadi, baru saja berhasil mempertahankan ujian doktoralnya di Universitas Harvard Amerika Serikat. Ia melewatinya setelah belasan tahun bertapa di perguruan swasta terbaik di dunia itu. Saya dan tentunya kami, kaum muda dan warga Muhammadiyah berbahagia sekali dengan kabar ini. Seperti berkah indah di bulan Ramadlan.

Kisah Sukidi adalah narasi keuletan, kegigihan, dan ketekunan tak kenal lelah dan putus-asa. Berasal dari Tanon Sragen Jawa Tengah, dengan susah payah, berdarah dan berlika-liku, kini Sukidi Mulyadi ---penulis prolifik artikel di media nasional dan internasional serta beberapa buku populer, ia telah menaklukkan mitos keangkeran akademik Harvard. Ia telah membuktikan diri bahwa persistensi mimpi dan cita-cita itu tak boleh luruh di depan altar-altar kampus yang menjulang tinggi dan angkuh serta para profesor yang kadang terasa "tinggi hati". Ia mengalami itu dengan narasi besar seorang begawan-pejuang: "rawe-rawe rantas malang-malang putung".

Ketika saya masih mengeja diktat-diktat kuliah, Sukidi memberi inspirasi dan membakar gairah intelektualitas. Ia --pada saat itu, bagai obor muda bagi tunas-tunas lain yang tengah bertumbuh dalam gelap. Jika tidak salah, ia mengawali studi politik di Ohio Amerika Serikat pada 2003, kemudian mengambil S2 lagi di Harvard pada 2004, dan seterusnya selama kurang lebih belasan tahun menempuh S3 di kampus yang sama.

Saya ingat, penggalan waktu sekitar 2007-2008, Sukidi rajin beli buku-buku bahasa Arab yang ditulis para pemikir Islam seperti Nasr Hamid Abu Zayd, Hasan Hanafi dan lainnya. Mengingat di Paris, buku-buku tersebut mudah dijumpai, akhirnya ia meminta tolong saya untuk membelikan dan mengirimkannya ke sana. Saat itu, ia pernah bilang ayuk nulis bareng (co-authoring) suatu hari. Semoga ajakan itu suatu saat terwujud. Dari hasil perburuan buku-buku Arab-nya itu, sejurus kemudian ia mengirimkan tulisannya yang terbit di sebuah jurnal bergengsi tentang Nasr Hamid Abu Zayd.

Saya mengucapkan selamat atas pencapaian Dr Sukidi Mulyadi dan Mbak Uum Humaerah atas prestasi ini. Sukidi adalah sedikit orang -- meminjam istilah Robert Hefner (Bob) Hefner pada saya saat di Jogja dan Paris sepuluh tahun lalu, mahasiswa Indonesia yang berhasil "beradaptasi" dengan iklim dan kultur akademik Harvard yang "angker". Ya, Hefner sempat merespon balik tulisan Sukidi di Kompas dalam sebuah tanggapan yang serius dan panjang tentang Muhammadiyah sebagai gerakan Protestantisme Etik. Hefner mengapresiasi Sukidi tanpa basa-basi.

Sukidi, lagi-lagi, menggubah sebuah narasi ketekunan, keuletan dan kegigihan dengan indah. Kemarin, anak Tanon dan aktivis Ciputat ini dengan tanpa diketahui oleh siapapun termasuk istrinya-- berhasil mempertahankan disertasinya tentang "The Gradual Qur'an: Views of Early Muslim Commentators." Narasi itu menginspirasi, saya terutama, dan tentunya anak-anak muda yang sekarang tengah menempuh jalan pedang yang tajam nan sunyi dalam karir akademik dan intelektual. Semoga, saya beruntung dapat segera menapaki jalan indah kesuksesan ini.

Selamat Bro! Welcome back to Indonesia soon..

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA