Wednesday, 21 Zulqaidah 1440 / 24 July 2019

Wednesday, 21 Zulqaidah 1440 / 24 July 2019

Anak, Perhiasan, dan Ujian

Jumat 29 Mar 2019 23:10 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Agung Sasongko

Pendidikan anak (ilustrasi)

Pendidikan anak (ilustrasi)

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Setiap orang tua selalu mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Setiap orang tua selalu mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Namun, yang terbaik ini bagi tiap orang tua berbeda standar dan pandangan. Kualitas ilmu dan iman menjadi salah satu hal yang mendasari bagaimana setiap orang tua melihat apa yang baik dan buruk bagi anak-anak mereka.

Ustaz Ali Hasan Bawazier dalam kajiannya di Masjid Nurul Amal Pasar Minggu menyebut, iman dan ilmu orang tua berpengaruh dalam mendidik anak-anaknya menjadi anakanak yang saleh-salehah. "Anak diharapkan mampu menjadi penyejuk pandangan mata, baik di dunia maupun di akhirat," ujarnya belum lama ini.

Orang tua kini disebut sering membanggakan anaknya akan suatu prestasi atau capaian, tetapi tidak membawa manfaat bagi diri mereka. Beberapa contoh yang disebut Ustaz Ali Hasan adalah banyak orang tua memiliki anak yang tingkat pendidikannya tinggi dan pekerjaan makmur. Namun, ketika orang tua meminta tolong anaknya sibuk dengan dunianya sendiri. Mereka tidak lagi memiliki waktu untuk orang tuanya.

Padahal, Rasulullah SAW sebelumnya sudah memberikan pesan, "Jika anak Adam meninggal, amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa kepadanya."

Doa anak yang saleh bagi orang tuanya adalah hal yang sangat dinantikan oleh setiap orang tua di dunia. Islam mengajarkan agar setiap Muslim menyiapkan anak-anak yang dapat membawa manfaat. Dalam QS at-Taubah ayat 55 disebut, "Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedangkan mereka dalam keadaan kafir."

"Adanya harta dan anak bagi orang kafir sejatinya bukan untuk kebaikan, melainkan untuk menambah azab mereka. Betapa banyak orang tua yang merasa menyesal melahirkan anakanaknya karena tidak membawa manfaat. Anak-anak mereka tidak tumbuh dengan didikan yang baik dan dikenalkan pada hakikat dunia serta agamanya," ujar Ustaz Ali Hasan.

Ia mengingatkan jika orang tua yang saleh belum tentu anaknya saleh pula. Pun sebaliknya, anak yang saleh belum tentu lahir dari orang tua yang saleh. Hal ini terlihat dalam kisah Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim. Anak Nabi Nuh ikut tenggelam dalam azab yang diberikan Allah SWT dan ayah Nabi Ibrahim yang merupakan penyembah berhala.

Untuk menghasilkan anak yang saleh, dibutuhkan ikhtiar dan usaha yang tidak ada putusnya. Yang perlu diingat adalah usaha yang dilakukan saat ini akan membawa manfaat di kemudian hari. Nabi SAW pernah bersabda, "Jagalah Allah niscaya Ia menjagamu, jagalah Allah niscaya kau menemui-Nya di hadapanmu."

Selain sebagai sebuah tanggung jawab, anak juga sebuah nikmat dari Allah SWT. Dengan nikmat yang ada, sudah seharusnya orang tua bersyukur atasnya. Dalam QS Ibrahim ayat 7 Allah bersabda, "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklum kan; 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." Pun, menjadi kehendak Allah SWT dalam memberikan keturunan pada hamba-Nya.

Dalam QS asy-Syura ayat 49-50 Allah berfirman, "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis lakilaki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia dikehendaki.

Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa." "Anak adalah anugerah dari Allah. Seseorang bisa mendapatkan ketu run an bukan karena kehebatannya. Bukan pula karena kejelekan sese orang maka ia tidak memiliki anak. Semua adalah bagian dari ujian dan nikmat Allah SWT," ujar Ustaz Ali Hasan.

Ia melanjutkan, orang tua akan merasakan nikmat yang besar jika melihat anaknya beriman dan berbakti pada Allah SWT. Jika anak diarahkan pada ketaatan pada Allah, dikenalkan untuk pandai bersyukur atas nikmat Allah, dipahamkan perihal tauhid, di ben cikan atas syirik dan musyrik, ma ka nikmat orang tua akan bertambah.

Pada QS al-Kahfi ayat 46 berisikan perihal kedudukan harta dan anak di dunia. Allah SWT berfirman, "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehi dupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik menjadi harapan."

Dalam QS at-Taghabun ayat 15 Allah berfirman, "Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar." Dari Hakim dari al-Aswad bin Khalaf dan Thabrani dari Khaulah binti Hukaim berkata bahwa Nabi SAW pernah memegang tangan al-Hasan, lalu beliau menciumnya seraya bersabda, "Sesungguhnya anak itu membuat bakhil, pengecut, bodoh dan menyusahkan (orang tua)." Ustaz Ali Hasan pun mengingatkan jamaah yang hadir untuk selalu mengajarkan hal yang baik dan perihal agama pada anak-anaknya. Dia berpesan, ilmu agama akan menjadi bekal mereka tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA