Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Mantan Kombatan Maluku Ungkap Bahaya Kelompok Radikal

Senin 24 Dec 2018 23:07 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Warga berfoto di depan Gong Perdamaian Dunia (World Peace Gong0 di Kota Ambon, Maluku, Rabu (8/2).

Warga berfoto di depan Gong Perdamaian Dunia (World Peace Gong0 di Kota Ambon, Maluku, Rabu (8/2).

Foto: Republika/ Yasin Habibi
Kelompok radikal jihadis menyalahpahami agama sesuai tafsir keras mereka.

REPUBLIKA.CO.ID, AMBON— Mantan  Asisten 1 Operasi Pusat Komando Jihad Maluku Tahun 1999-2002, Jumu Tuani bersama para rekan seperjuangan menggelar ceramah deradikalisasi, bertempat di RT 04/RW 021 BTN Manusela, Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Senin (24/12). 

Cermah tersebut bertema "Mencegah Radikalisasi Yang Mempolitisasi Agama Agar Maluku dan Indonesia Pada Umumnya Aman dan Damai", dengan narasumber Ketua MUI Maluku Dr Abdullah Latuapo, yang dihadiri para pemuda dan masyarakat di sekitar BTN Manusela. 

Jumu Tuani juga selaku Ketua Panitia mengatakan kegiatan ceramah yang digelar pihaknya terkait dengan demo-demo yang dilakukan dalam rangka proses politik di Indonesia yang sedang berlangsung saat ini, dan itu semua ditunggangi oleh kelompok-kelompok radikal. 

"Yang kita khawatirkan, itu akan jadi gesekan di tahun-tahun politik ini. Karena itu, sebelumnya saya sudah koordinasi dengan para mantan jihad yang sudah insyaf di Ambon, dan mereka sangat setuju untuk digelar ceramah ini," kata Jumu. 

Dia mengungkapkan banyak aksi radikal di Indonesia yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Aksi tersebut sangat berbahaya dan yang paling berbahaya itu adalah fatwa-fatwa yang mengatasnamakan ulama. Padahal fatwa itu sangat bertentangan dengan Alquran dan sunah. 

"Ini yang saya dapati di lapangan seperti itu, baik waktu saya dalam tahanan di Mako Brimob Depok maupun ketika saya dikirim ke Cianjur untuk ceramah, termasuk di Posso dan di Bima, terutama pada basis kelompok-kelompok radikal," ujarnya. 

Dia mengatakan, usai dialog yang mereka lakukan, terbukalah wawasan. Para obyek dakwah dari kalangan Islam garis keras mengaku mater-materi ini tidak pernah didapat dalam materi yang diberikan ustaz mereka. 

"Saya bilang janganlah menerima begitu saja ceramah seorang ulama. Kita dilarang, tidak boleh menggunakan satu kesimpulan dari seorang ulama, tetapi harus ijma’ ulama secara konsensus atau keputusan ulama secara umum ini yang harus dipakai," kata Jumu Tuani, yang juga sebagai narasumber dalam kegiatan Ceramah Deradikalisasi itu. 

Ketua MUI Maluku, Dr Abdullah Latuapo, mengatakan kegiatan Ceramah Deradikalisasi ini salah satu bentuk upaya bagaimana memberikan pembinaan kepada masyarakat terutama anak-anak muda, sehingga mereka tidak terpengaruh dan terjebak dengan paham-paham radikalisme. Terutama paham agama yang sempit sehingga mereka mempunyai paham ideologi yang bertentangan dengan ideologi Pancasila. 

"Kalau sudah memberikan pemahaman yang sempit terhadap agama, maka mereka saling merendahkan, menyalahkan bahkan saling mengafirkan antara sesama umat manusia. Ini yang dikhawatirkan. sehingga kita bisa melihat timbul kelompok-kelompok garis keras, terorisme bahkan adanya ISIS," kata Dr Abdullah. 

Akibat dari pemahaman-pemahaman yang dangkal, lanjutnya, pemahaman-pemahaman terhadap agama juga tidak diterima secara utuh, sepotong-sepotong, atau secara parsial tidak secara menyeluruh sehingga mereka mudah menyalahkan dan merendahkan bahkan menjelekkan yang lain. 

"Kita ingin dengan kegiatan seperti ini, masyarakat kita bisa bertambah wawasan dan pengetahuan bagaimana kehidupan sesama umat manusia terutama hidup toleransi, kebersamaan  dan berdamai," ujarnya.

Kemudian bagaimana kita membantu pemerintah khusus pemerintah Provinsi Maluku untuk menjadikan Ambon dan Maluku umumnya menjadi laboratorium pembinaan umat beragama, menjadi contoh teladan kepada daerah-daerah lain, bukan hanya secara nasional tetapi juga internasional. 

"Kalau berbicara tentang kedamaian, silahkan datang ke Ambon, bagaimana kita menjaga kerukunan, merawat kedamaian dan kebersamaan, ini yang  kita bisa harapkan dalam kegaiatan ini," ujar Dr Abdullah.

Menurut dia kegiatan seperti ini, kapan saja bisa dilaksanakan, tidak hanya di tempat ini, tetapi juga di tempat-tempat lain. Kita mencoba untuk memberikan bimbingan dan konseling kepada oknum-oknum yang sudah terlibat dalam kelompok-kelompok radikal, terorisme, ISIS dan lainnya. Kita memberikan pemahaman yang baik kepada mereka. 

Tentu saja dengan cara-cara persuasif, bagaimana mendekati mereka dan memberikan pemahaman yang baik dan menjelaskan kepada mereka tentang ajaran agama yang baik dan menanamkan rasa kebhinekaan dan cinta kepada NKRI, ini yang kita tanamkan kepada mereka. 

"Karena mereka berangapan Pancasila itu adalah bertentangan dengan agama, justru tidak bertentangan karena Pancasila merupakan implementasi daripada nilai-nilai agama dan Pancasila bagian dari nilai-nilai agama," kata Dr Abdullah.

Karena itu, kita selalu mengimbau ke masjid-masjid khususnya kepada masyarakat untuk tetap menjaga kebersamaan, menjaga keamanan, dan kedamaian serta keutuhan NKRI yang  merupakan tanggung jawab bersama. Terutama menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019. 

 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA