Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Psikolog: Orang Tua Bisa Berperan Meminimalisasi Radikalisme

Sabtu 01 Dec 2018 03:48 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Andri Saubani

Arijani Lasmawati

Arijani Lasmawati

Foto: Dok Pri
Survei menunjukkan sebanyak 58,5 mahasiswa muslim mempunyai pandangan radikal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengungkapkan, sebanyak 58,5 persen mahasiswa Muslim mempunyai pandangan radikal. Menurut pandangan psikolog dan peneliti radikalisme, Arijani Lasmawati, peran orang tua sebetulnya dapat meminimalisasi munculnya paham radikalisme pada diri anak-anak.

Arijani mengatakan, orang tua dapat meminimalisasi munculnya paham radikalisme pada diri anak-anak. Anak-anak yang masih kecil harus banyak berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang tau. Sebab, orang tua harus menjadi figur bagi anak-anak mereka.

"Orang tua harus jadi figur dan contoh bagi anak-anak, (orang tua) jadi tokoh panutan (anak-anak), Kalau tidak (bisa jadi figur) maka anak akan mencari figur lain di luar sana," kata Arijani saat seminar nasional bertema Muslim Millennial: Menguatnya Radikalisme dan Tantangan Wawasan Kebangsaan di Diradja Hotel, Jakarta, Jumat (30/11).

Ia menerangkan, orang tua harus bisa mengarahkan potensi anak-anak mereka. Orang tua jangan berpikir anak seorang dokter harus jadi dokter dan anak seorang polisi harus jadi polisi. Sebab, ketika anak tidak mampu mewujudkan harapan orang tuanya, mereka akan merasa tertolak di keluarganya. Jadi, orang tua harus bisa menjaga anak-anak agar mereka punya frame yang baik.

Ia menceritakan, ada klien yang anaknya tidak bisa berkumpul dengan etnis Cina karena membenci etnis tersebut. Ternyata frame buruk anak tersebut berasal dari orang tuanya. Dulu, saat orang tuanya duduk di meja makan, mereka membahas masalah pekerjaan dan menyinggung etnis Cina yang tidak baik.

"Mereka (orang tua) lupa kehadiran anak di sana, anak punya telinga makanya framenya yang ditangkap begitu (frame-nya orang etnis Cina tidak baik)," ujarnya.

Sebelumnya, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Sukron Kamil menyampaikan, berdasarkan hasil berbagai survei, saat ini terdapat kecenderungan menguatnya intoleransi dan radikalisme di kalangan millennial. Sekarang tidak sedikit kaum millennial yang intoleran terhadap kaum minoritas di Indonesia.

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil riset PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, diketahui sebanyak 51 persen mahasiswa Muslim intoleran terhadap kaum Muslim minoritas seperti Syiah dan Ahmadiyah. Selain itu diketahui sebanyak 58,5 persen mahasiswa Muslim mempunyai pandangan radikal.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA