Ahad 21 Aug 2016 18:36 WIB

Gontor Bertahan Hingga 90 Tahun karena tak Terlibat Parpol

Rep: Retno Wulandhari / Red: Achmad Syalaby
Ponpes Gontor menerapkan sistem pendidikan siswa menginap di asrama selama 24 jam.
Foto: Antara
Ponpes Gontor menerapkan sistem pendidikan siswa menginap di asrama selama 24 jam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor Hamid Fahmy Zarkasyi menilai evaluasi dan introspeksi menjadi salah satu alasan Pondok Modern Darussalam Gontor masih bisa bertahan hingga usia 90 tahun.

"Ya karena kita (Gontor) tetap beraktivitas dibidang pendidikan saja. Pembenahan terus menerus dilakukan dan tidak terlibat ke dalam partai politik ataupun menjadi ormas," kata Hamid kepada Republika.co.id, Ahad (21/8).

Selain evaluasi dan introspeksi, Hamid mengatakan, Gontor saat ini juga terus melakukan pengembangan. Mengingat masyarakat yang semakin cerdas, orientasi pendidikan di Gontor juga diarahkan kepada universitas.

Faktor lain yang membuat Gontor masih bisa eksis hingga saat ini, menurut Hamid, karena Gontor terus menjaga prinsip, nilai dan filsafat hidup yang menekankan kepada keikhlasan, kesederhanaan, ukhuwah, dan kemandirian. Menurut Hamid, nilai-nilai ini selalu ditanamkan kepada seluruh elemen di Gontor.

Ketua Umum Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini menyebutkan nilai-nilai yang ditanamkan kepada para kader ini secara tidak langsung mencetak para alumni yang memiliki kepribadian yang baik serta mentalitas yang kuat. Orientasi kemasyarakatan para kader pun menjadi nilai yang tinggi.

"Kita bukan mencetak ulama tetapi mencetak manusia yang berkepribadian, mentalitas, akhlak dan nilai-nilai perjuangan. Karena pada prinsipnya pendidikan itu menjadikan manusia seutuhnya apaun profesinya," kata Hamid menambahkan.

Secara internal, Hamid berharap, para guru dan dosen Gontor tetap konsisten berpegang kepada nilai-nilai yang sudah berjalan. Sementara secara eksternal, Hamid meminta kepada pihak di luar Gontor untuk memahami Gontor seperti apa adanya. "Tidak perlu membawa ke ranah politik maupun kepada pemikiran liberal dan sekuler," ujar Hamid. 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement