Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Al-Anwar Lampung, Berdiri Sebelum Induk Krakatau Meletus

Rabu 16 Jan 2019 12:29 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Masjid Jami' Al Anwar, salah satu masjd tertua di Kota Bandar Lampung.

Masjid Jami' Al Anwar, salah satu masjd tertua di Kota Bandar Lampung.

Foto: Dok Mira Achiruddin
Selain sebagai pusat dakwah penyebaran Islam, masjid ini juga markas para pejuang.

REPUBLIKA.CO.ID, Masjid Jami Al-Anwar dikenal sebagai masjid tertua di Provinsi Lampung dan masih bertahan sampai sekarang, meskipun beberapa kali harus direnovasi, termasuk ketika rusak berat saat Gunung Krakatau (induk) di Selat Sunda meletus dahsyat pada 1883.

Menurut catatan di sejumlah sumber, setidaknya masjid ini sudah ada sejak 1839 atau sudah berfungsi sejak sekitar 180 tahun lalu walaupun semula hanya berupa surau atau langgar kecil.

Lokasi masjid ini di Jalan Laksamana Malahayati Nomor 100 Kelurahan Kangkung, Kecamatan Teluk Betung Selatan, Kota Bandarlampung. Lokasinya sedikit ke pinggir dari pusat bisnis di kawasan Telukbetung, Bandarlampung. Tak jauh pula dari pusat belanja oleh-oleh kuliner khas Lampung di bagian seberang depannya.

Masjid ini juga memiliki banyak peninggalan bersejarah yang masih ada sampai sekarang.

Pemerintah Provinsi Lampung melalui Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Lampung telah menetapkan masjid ini sebagai masjid tertua dan bersejarah di Bandarlampung.  

Menurut penuturan Sumanta (51), salah satu pengurus Masjid Jami Al-Anwar, sejak enam tahun yang lalu, masjid ini tertua di Provinsi Lampung, bahkan berdiri sebelum Gunung Krakatau meletus, 26-27 Agustus 1883.

"Masjid ini termasuk masjid yang tertua di Lampung, berdirinya bahkan sebelum Gunung Krakatau meletus. Gunung Krakatau kan meletusnya tahun 1883, masjid ini sudah ada sejak 1839, tetapi menurut informasi saat itu masih berbentuk surau," ujar Sumanta, saat ditemui di Masjid Jami Al-Anwar, belum lama ini.

Catatan sejarah, masjid ini dibangun ulama pendatang yang berasal dari Pulau Sulawesi dari Suku Bugis. Semula masih dalam bentuk surau atau mushala yang digunakan para ulama tersebut untuk perkumpulan mengaji, bersama dengan ulama dan masyarakat setempat lainnya.

"Tokoh itu adalah Daeng Muhammad Ali, KH Muhammad Said, dan H Ismail. Setelahnya mereka mendirikan surau untuk mengaji bersama ulama dan siapa pun masyarakat yang ingin mengaji bersama," ujarnya.

Surau kemudian mengalami beberapa renovasi dan perluasan bangunan sehingga membentuk masjid.

Awal renovasi dilakukan lima tahun setelah Gunung Krakatau meletus, sekitar 1888, bersama dengan para ulama dan masyarakat dengan langsung mendirikan masjid yang lebih permanen pada tahun itu, lalu dilanjutkan renovasi, termasuk yang dilakukan pada 1972, dan terakhir pada 2015.

"Untuk renovasinya, saat Gunung Krakatau meletus, mushalanya rusak hanya menyisakan tiang-tiangnya,” kata dia.  

Jadi pada 1888, menurut informasi, tutur Sumanta, renovasi dilakukan dengan tetap mempertahankan enam tiang yang ada. Enam tiang tersebut menggambarkan rukun iman.

Pada 1972, renovasi dilakukan kembali dengan memperluas bangunan menjadi lebih besar karena jamaah yang datang saat shalat Jumat dan hari-hari besar semakin banyak jumlahnya.

Terakhir, perbaikan dan renovasi masjid ini dilakukan sekitar 2015 sampai 2016, yang diganti atap masjid, awalnya genting biasa menjadi seng baja.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA