Selasa 12 Sep 2017 17:45 WIB

FKUB Jakarta Tertarik Model Toleransi di Purwakarta

Rep: Ita Nina/ Red: Endro Yuwanto
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta KH. Syafii Mufid, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin, Anggota Komisioner Bawaslu Pemprov DKI Jakarta Muhammad Jufri, dan Pengamat Politik Lima (Lingkar Madani),
Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta KH. Syafii Mufid, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin, Anggota Komisioner Bawaslu Pemprov DKI Jakarta Muhammad Jufri, dan Pengamat Politik Lima (Lingkar Madani),

REPUBLIKA.CO.ID, PURWAKARTA -- Model toleransi yang diterapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta, mendapat sorotan berbagai pihak. Salah satunya, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta.

Forum ini, sengaja mendatangi Purwakarta untuk studi banding dan penelitian mengenai keberagaman toleransi yang diterapkan wilayah ini.

Ketua FKUB DKI Jakarta Kiai Ahmad Syafi'i Mufid mengatakan, pihaknya sangat tertarik dengan model toleransi yang diterapkan wilayah ini. Pasalnya, toleransi antarumat beragama di wilayah ini sangat tinggi. Atas dasar ini, pihaknya membawa jajaran pengurus untuk membangun blue print kehidupan toleransi antar umat beragama di Jakarta.

"Atmosfer keberagaman toleransi di Purwakarta akan kami telaah untuk diterapkan di Jakarta," ujar Ahmad saat ditemui di rumah dinas bupati Jl Gandanegara No 25, Selasa (12/9).

Ahmad menambahkan, selama ini Jawa Barat terkenal dengan provinsi dengan tingkat intoleransi yang tinggi. Tetapi, kondisi ini berbanding terbalik dengan iklim di Purwakarta. Padahal, Purwakarta merupakan bagian dari wilayah di Jawa Barat. Namun, tingkat kerukunan umat beragama di Purwakarta justru sangat tinggi.

Karena itu, FKUB sangat tertarik melakukan kajian di wilayah ini. Hasil kajian dan telaah nanti akan diterapkan di Jakarta. Supaya, tingkat toleransi di Jakarta mengalami peningkatan.

Sementara itu, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan, keberagaman toleransi ini terbentuk dari pembangunan yang berbasis mental serta spiritual. Jadi, pembangunan di Purwakarta tak melulu berkutat pada fisik. Melainkan, mental dan spiritualitas warganya juga terus ditingkatkan. Salah satunya, dengan menyasar pelajar SD dan SMP. Para pelajar ini, pendidikan agamanya terus diperkuat.

"Kami bangun ruang ibadah untuk seluruh agama di setiap sekolah. Anak-anak juga didorong untuk memperdalam baca tulis Alquran dan kitab kuning, serta kitab agama masing-masing bagi pelajar non-Muslim," ujar Dedi.

Tak hanya itu, kata Dedi, sarana ibadah di masyarakat juga terus diperbanyak. Termasuk, jumlah guru mengajinya. Saat ini saja, sudah ada 600 guru yang direkrut untuk menjadi pengajar di sekolah umum. Kondisi ini, meningkatkan indeks keberagaman toleransi di Purwakarta.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement