Sunday, 10 Safar 1442 / 27 September 2020

Sunday, 10 Safar 1442 / 27 September 2020

Bela agama dan Iman akan Berbuah Manis

Selasa 02 May 2017 05:00 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko

Allah/Ilustrasi

Allah/Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebelum menerima cahaya iman, Hamzah bin Abdul Muthalib larut dalam kehidupan duniawi. Ia gemar mabuk-mabukan dan berfoya-foya. Ia juga bersikap begitu fanatik terhadap sukunya, Bani Hasyim.

Bila merujuk pada nasab, Hamzah merupakan salah seorang paman Nabi Muhammad SAW. Tapi, saat itu Hamzah bin Abdul Muthalib masih acuh tak acuh terhadap ajaran yang disebarkan keponakannya tersebut.

Sekalipun membela Muhammad, hal itu dilakukannya lebih karena fanatisme kesukuan. Siapa pun yang menyakiti Muhammad, Hamzah bin Abdul Muthalib tidak akan tinggal diam.

Suatu malam, Hamzah berjalan pulang ke rumahnya. Ia baru saja selesai berburu. Di tengah perjalanan, seorang budak milik Abdullah bin Jud'an mencegatnya. Bukan main kagetnya Hamzah mendengar perempuan itu berkata setengah berteriak, Wahai Tuan, alangkah hinanya keturunan Abdul Muthalib!

Ada apa? tanya Hamzah yang mencoba mengendalikan dirinya.

Kalau Tuan melihat apa yang dilakukan Hakam bin Hisyam terhadap keponakan Tuan, Muhammad, tentu Tuan akan marah besar. Kondisinya sangat menyedihkan karena keponakan Tuan itu dicaci-maki dan disakitinya, kata budak perempuan ini. Hakam bin Hisyam adalah nama lain Abu Jahal.

Amarah Hamzah tidak bisa dikendalikan lagi. Benarkah kata-katamu ini, wahai budak? tanya Hamzah.

Sungguh, saya tidak berdusta, Tuan, jawab perempuan yang masih menyembunyikan keislamannya itu. Maka, Hamzah bin Abdul Muthalib bergegas pergi ke kediaman Nabi Muhammad.

Ia ingin mendengarkan kabar ini langsung dari keponakannya itu. Bagaimanapun, Hamzah sangat benci bila Muhammad dihina di depan umum sampai-sampai seorang budak menganggap rendah tabiat Bani Hasyim, khususnya anak-cucu Abdul Muthalib.

Kebetulan, Hamzah berpapasan dengan beberapa orang yang sedang berkumpul di tepi jalan. Salah satunya adalah Abu Jahal. Bahkan, saat itu Abu Jahal sedang menjelek-jelekkan Nabi Muhammad dengan kata-kata yang sangat menghina.

Begitu mendengar celotehan Abu Jahal, Hamzah segera mengambil busur panahnya dan memukul kepala Abu Jahal dengan benda itu sekeras mungkin hingga mengucurkan darah. Abu Jahal tersungkur di depan anak buahnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA