Wednesday, 22 Zulhijjah 1441 / 12 August 2020

Wednesday, 22 Zulhijjah 1441 / 12 August 2020

Menjadi Pengusaha Ideal, Ini Pesan Rasulullah

Kamis 26 Jan 2017 09:30 WIB

Red: Agung Sasongko

Rasulullah

Rasulullah

Foto: wikipedia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Suatu saat, Abu Suba’ pernah membeli seekor unta dari rumah Watsilah Ibn al-Asqa. Te tapi, Abu Suba’ tidak langsung bertransaksi dengan Watsilah, tetapi dengan orang lain. Merasa telah mendapatkan unta yang diinginkan, Abu Suba’ pun ber pamitan untuk kem bali ke rumahnya.

Belum lama pergi, Watsilah menyusul sam bil mengangkat sarungnya, lalu berkata, “Kamu membelinya? Kuja wab, ‘Ya!’.” Watsilah kembali bertanya kepada Abu Suba’, “Ka mu membutuhkannya untuk be pergian atau meng inginkan dagingnya?”

Ia menjawab untuk itu sedianya akan digunakan untuk pergi haji. Mendengar jawaban itu, Watsilah tibatiba menyuruh agar unta tersebut dikembalikan ke pemiliknya. Ia me lihat, ada gelagat kecurangan oleh pemilik unta tersebut. Merasa disudutkan, pe milik membela diri dan mengecam tindakan Watsilah. “Semoga Allah memperbaikimu. Kamu telah menghancurkan saya!”

Lantas, Watsilah pun menegur sang pemilik dan mengatakan, “Saya telah mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Tidak boleh seseorang menjual sesua tu kecuali dengan menjelaskan apa yang ada padanya, dan tidak boleh bagi orang yang mengetahuinya, ke cuali harus menjelaskannya’.”

Kisah berikut sabda Rasulullah tersebut, diriwayatkan oleh al-Hakim. Dalam urusan berdagang, ‘memanjakan’ konsumen adalah hal mendasar yang mutlak dijaga. Berdagang, dalam Islam, tak sekadar meraup keuntungan dengan menghalalkan segala cara. Sportivitas berdagang tak boleh diabaikan.

Dalam buku Ensiklopedi Muhammad Sebagai Pedagang dijelaskan Na bi Saw adalah sosok pengusaha ideal. Namun, ia tidaklah diutus secara khu sus menjadi pedagang. Rasulullah telah menjadi pedagang ideal yang sukses dan meletakkan tuntutan ber dagang secara sukses dan beretika. Yakni, tetap memegang prinsip ke jujuran dan keadilan dalam berhubungan dengan para pelanggan.

Sebagai agen Khadijah—untuk urusan dagang—Nabi Saw mendapat laba yang melebihi dugaan. Tetapi, di saat yang sama tak sepeser pun yang digelapkan. Apa yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah adalah bukti, dengan tetap mempertahankan spor tivitas berdagang, tak mengurangi penghasilan. Karena itu, Rasulullah menegaskan dalam sebuah hadis, yakni mencari penghasilan dengan cara yang halal adalah tugas wajib.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA