Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

MUI: Yesus Saja Dihina Charlie Hebdo

Selasa 13 Jan 2015 20:04 WIB

Red: Agung Sasongko

Salah satu edisi majalah Charlie Hebdo.

Salah satu edisi majalah Charlie Hebdo.

Foto: Stripsjournal

REPUBLIKA.CO.ID, LEBAK -- Ketua Bidang Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak KH Baijuri mengatakan umat Islam di Tanah Air tidak terprovokasi atas penerbitan kembali sampul bergambar kartun Nabi Muhammad di majalah Charlie Hebdo.

"Kita jangan sampai terpancing dengan penerbitan majalah itu hingga melakukan teror maupun tindakan kekerasan. Sebab ajaran Islam sebagai agama Rahmatanlilalamiin," kata Baijuri saat dihubungi di Lebak, Selasa (13/1).

Ia mengatakan, penerbitan sampul bergambar Nabi Muhammad itu tentu perbuatan melawan hukum karena mereka tidak menghormati antarpemeluk agama. Apabila, kasus tersebut terjadi di Indonesia maka dipastikan pelakunya bisa diproses secara hukum.

Karena itu, pihaknya meminta umat Islam tidak terpancing atau terprovokasi penerbitan sampul bergambar kartun Nabi Muhammad. Umat Islam lebih baik menanggapi penerbitan itu bersikap bijaksana untuk menghindari tindakan anarkis.

Sebab tindakan anarkis bukan solusi terbaik, namun bisa menimbulkan masalah baru. Bahkan, dirinya mengutuk pelaku penembakan di majalah Charlie Hebdo yang menewaskan belasan orang.

Charlie Hebdo merupakan majalah yang dibuat kelompok sekuler antiagama di Perancis. Mereka bukan hanya menghina penerbitan Nabi Muhammad saja, tetapi juga orang-orang suci dari agama lain seperti Yesus Kristus secara berlebihan dari agama Kristen. Akan tetapi, umat Kristen itu tidak menanggapi dengan cara kekerasan terhadap majalah Charlie Hebdo tersebut.

Ia menyebutkan penerbitan edisi terbaru Charlie Hebdo berpotensi terjadi kekerasan juga memicu reaksi emosional dari dunia Islam. Apalagi dikabarkan edisi terbaru itu akan dicetak 3 juta eksemplar, jauh di atas oplah majalah itu biasanya yang hanya 60.000.

"Saya kira penerbitan melebihi oplah itu tentu bisa mengundang emosional umat Islam dunia. Bahkan akan ditanggapi oleh kelompok radikal dengan tindakan kekerasan yang bisa memperkeruh keadaan," jelasnya.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA