Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Pendidikan di Suriah Pernah Berjaya

Selasa 18 Jun 2019 21:41 WIB

Red: Agung Sasongko

Damaskus

Damaskus

Foto: Womanitely
Suriah membagi pendidikan menjadi tiga tahap.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Suriah, negara yang tengah dirundung konflik saudara tak berkesudahan ini, pernah menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan. Suriah, dengan Syam sebutan klasiknya, adalah di antara destinasi penting para pelajar dari berbagai wilayah Islam ketika itu untuk menuntut ilmu.

Mendeklarasikan diri sebagai negara sekuler, Suriah masih tetap mampu memosisikan diri sebagai salah satu pusat pendidikan Islam yang banyak diakui. Pelaksanan ajaran agama dilakukan sekadarnya saja. Tidak seperti negara Islam ultrakonservatif lainnya yang menerapkan aturan Islam dalam pelaksanaan negaranya, seperti negara-negara Teluk.

Sejak kuartal pertama abad ke-20, Muslim Suriah menyadari perlunya pendidikan modern. Karena itu, sekularisasi menyebar di kalangan Muslim, terutama pemuda di daerah perkotaan dan layanan militer.

Pada 2002, pendidikan dasar dan primer digabungkan menjadi satu tahap. Dan pendidikan dibuat wajib dari kelas satu sampai sembilan.

Pendidikan gratis dan wajib dari usia tujuh sampai 15 tahun. Bahasa Arab merupakan bahasa utama dalam proses belajar mengajar di Suriah. Adapun bahasa Prancis diajarkan sebagai bahasa kedua dari kelas I.

Menurut sensus penduduk pada 2007, sebanyak 98 persen sekolah di Suriah adalah milik publik (atau sekolah yang dikelola negara), 1,8 persen  swasta, dan 0,2 persen bantuan PBB dan Badan Pekerjaan Sekolah untuk Anak-Anak Pengungsi.

Suriah membagi pendidikan menjadi tiga tahap. Untuk kelas I hingga VI disebut tingkat pendididkan dasar. Kelas VII sampai IX tingkat pendidikan pramenengah dan kelas X hingga XII disebut pendidikan menengah atas yang setara dengan sekolah tinggi.

Menurut Joshua M Landis dalam Islamic Education in Syria: Undoing Secularism, pendidikan agama di Suriah merupakan aspek terpadu dari kurikulum.  Dalam satu pekan siswa akan belajar agama dua sampai tiga jam. Meskipun wajib, kelas agama tidak menjadi parameter utama untuk nilai kenaikan kelas.

Jika seorang siswa gagal dalam kelas agama (suff ad-diyana), ia akan tetap dapat naik kelas. Tetapi, jika gagal dalam dua mata pelajaran termasuk agama, siswa harus mengulang kelas satu tahun lagi.

Bila mengaca kepada sejarah Islam Suriah, pendidikan Islam di negara ini memang memiliki catatan gemilang tersendiri. Pendidikan Islam berkembang pesat. Damaskus ketika itu dijadikan sebagai pusat pemerintahan Dinasti Umayyah.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA