Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Ketika Syingith Mulai Jadi Pusat Peradaban Islam

Kamis 25 Apr 2019 23:12 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Peradaban Islam di Afrika Barat.

Peradaban Islam di Afrika Barat.

Foto: Onislam.net
Syingith terletak di Afrika Barat atau kini bagian dari negara Mauritania

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menyambung tulisan sebelumnya. Awkar telah menjadi kerajaan yang berpengaruh di Afrika barat pada masa itu. Dominasi Awkar yang kental dengan nuansa Islam terasa sampai ke Syingith.

Beberapa sejarawan juga menyertakan kota ini ketika membahas kebudayaan Awkar. Satu hal yang pasti, pengaruh Kerajaan Awkar mulai melemah dan tergantikan Berber menjelang abad ke-11.

Baca Juga

Anggota persekutuan Iznagen dari Sous (kini Maroko), Jazulah, diketahui sudah taat dalam Islam. Pemimpin Jazulah, Abdullah bin Yasin, kemudian mendirikan aliansi al-Murabithun bersama dengan suku-suku Berber lainnya di Afrika utara.

Mereka mengembangkan wilayah hingga Afrika barat. Pada 1076, al-Murabithun berhasil menaklukkan Syingith dan sekitarnya. Sejak saat itu, Syingith tidak semata-mata kota transit di jalur perniagaan Gurun Sahara, melainkan juga sentra peradaban Islam.

 

Menjadi 'Kota Suci yang Ketujuh'

Dinasti al-Murabithun terus bertahan sampai datangnya serangan dari Dinasti al-Muwahhidun pada 1147. Sama seperti mereka, al-Muwahhidun memusatkan kekuasannya di Maroko dan sekitarnya. Adapun dataran tinggi Adrar dibiarkan tanpa dominasi politik yang berarti.

Dengan demikian, pada masa itu, Kota Syingith “terjepit” di antara kedaulatan al-Muwahiddun di utara dan Kerajaan Awkar di selatan. Bagaimanapun, peran penting kota ini belum luruh.

Sampailah pada abad ke-13. Masyarakat Syingith dan sekitarnya mendirikan Masjid Jami’ al-Kabir dan Masjid Wadan. Keduanya menjadi sentra peribadatan Islam serta kajian ilmu-ilmu agama. Dilihat bentuk bangunannya, tampak jelas ciri-ciri kebudayaan Berber, khususnya dari menara yang menjulang tinggi. Sampai hari ini, kedua masjid tersebut menjadi ikon nasional Mauritania.

Sejak masa ini, kaum Muslim di Afrika barat mulai menggelari Syingith sebagai kota suci yang ketujuh. Alasan di balik penamaan ini memang jarang berterima bagi masyarakat di luar Afrika. Bagaimanapun, julukan tersebut semata-mata menandakan besarnya penghormatan untuk kota ini.

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA