Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

KH Ahmad Azhar Basyir, Ketum Muhammadiyah 1990-95

Rabu 20 Mar 2019 18:25 WIB

Red: Hasanul Rizqa

KH Ahmad Azhar Basyir

KH Ahmad Azhar Basyir

Foto: tangkapan layar wikipedia
KH Ahmad Azhar Basyir seorang yang ahli fikih dan filsafat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai salah satu organisasi terbesar di Indonesia, Muhammadiyah telah menghasilkan banyak kader yang berkiprah di level nasional dan internasional. Di antara mereka adalah KH Ahmad Azhar Basyir.

Baca Juga

Pria yang lahir di Yogyakarta, 21 November 1928, itu dikenal sebagai ulama yang ahli fiqih dan filsafat Islam. Dalam konteks organisasi, dia pernah memimpin PP Muhammadiyah periode 1990-1995.

Ahmad Azhar tumbuh di lingkungan yang lekat dengan sejarah Muhammadiyah, yakni Kampung Kauman Yogyakarta. Putra pasangan KH M Basyir dan Siti Djilalah itu memulai pendidikan formal di Sekolah Rendah Muhammadiyah Suronatan (DI Yogyakarta).

Setamat belajar di sana, dia melanjutkan sebagai santri pada Pondok Pesantren Salafiyah Tremas Pacitan (Jawa Timur). Selang satu tahun kemudian, pemuda tersebut hijrah ke kampung halamannya, tepatnya pada Madrasah al-Fallah Kauman (DI Yogyakarta).

Setelah itu, pada 1944 pendidikannya berlanjut di Tabligh School (Madrasah Mubalighin III) Muhammadiyah (DI Yogyakarta) selama dua tahun.

Seperti umumnya generasi muda pada zaman 1945, Ahmad Azhar ikut dalam gelombang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di Yogyakarta, dia turut serta dalam kesatuan TNI Hizbullah Bataliyon 36. Kancah peperangan dijalaninya hingga situasi mulai kondusif.

Pada Oktober 1949, dia meneruskan kembali sekolah di Madrasah Menengah Tinggi Yogyakarta hingga tahun 1952. Nilai-nilai matapelajaran yang diraihnya cukup memuaskan, sehingga lulus dengan predikat baik.

Pilihannya jatuh pada Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN, kini UIN Sunan Kalijaga), Yogyakarta. Masa-masa kuliah dijalaninya dengan tekun. Kesempatan besar datang ketika dia memeroleh beasiswa belajar di Universitas Baghdad (Irak), tepatnya pada Fakultas Adab, Jurusan Sastra.

Pengembaraan intelektualnya berlanjut hingga ke Fakultas Dar al-‘Ulum, Universitas Kairo (Mesir). Dia berhasil menyelesaikan studi Islamic Studies dengan meraih gelar master. Tesis yang diajukannya berjudul Nizam al-Miras fi Indunisia, Bain al-‘Urf wa asy-Syari’ah al-Islamiyyah (Sistem Warisan di Indonesia, antara Hukum Adat dan Hukum Islam).

Kesibukannya dalam belajar seiring dengan konsentrasinya pada dunia pergerakan. Boleh dikatakan bahwa Ahmad Azhar sudah aktif secara kultural di Muhammadiyah sejak masih anak-anak. Keaktifannya meningkat di lingkungan organisasi sejak usianya 17 tahun, khususnya setelah bergabung dalam pelbagai kegiatan di Majelis Tabligh Muhammadiyah.

Berawal dari tugasnya sebagai sekretaris, hingga akhirnya diamanatkan sebagai ketua Pemuda Muhammadiyah pada 1956 atau sekitar dua tahun sejak organisasi otonom tersebut berdiri.

Tugas belajar di Irak membuatnya menyerahkan jabatan tersebut kepada rekannya, Fachrurodji (Kiai Haji). Lulus dari Universitas Kairo, Ahmad Azhar bekerja sebagai dosen pada Universitas Gadjah Mada (UGM) dan IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga. Dalam pada itu, dia masih aktif di lingkungan organisasi PP Muhammadiyah.

Sesuai dengan bidang keahliannya, intelektual yang gemar hidup sederhana itu mengurus Majelis Tarjih Muhammadiyah, sebuah lembaga di dalam organisasi tersebut yang menjadi rujukan terkait hukum Islam. Dalam periode 1985-1990, dia duduk sebagai ketua lembaga itu.

Dalam Muktamar Muhammadiyah di Semarang (Jawa Tengah) 1990, diputuskanlah bahwa kepemimpinan organisasi tersebut beralih dari KH AR Fachruddin kepada KH Ahmad Azhar Basyir.

Ketika terpilih sebagai ketua umum Muhammadiyah, demikian keterangan dari buku Ensiklopedi Islam, sejumlah kalangan sempat khawatir bila dia akan menampilkan sikap yang cenderung kaku, sebagaimana biasanya kaum ahli fiqih. Pandangan demikian, di satu sisi, mungkin ada benarnya.

Dalam persoalan tentang syariat dan akidah, misalnya, seorang pakar fiqih dapat menggunakan pendekatan tekstual. Namun, Kiai Ahmad Azhar juga menguasai persoalan filsafat. Oleh karena itu, pada faktanya sang ketua umum tersebut bersikap luwes. Pemikirannya yang “rigid” disampaikan dengan bahasa filsafat yang meruangkan dialog dan membuka cakrawala pikiran.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA