Selasa, 20 Zulqaidah 1440 / 23 Juli 2019

Selasa, 20 Zulqaidah 1440 / 23 Juli 2019

Keistimewaan Lafaz Allah

Selasa 25 Jun 2019 07:44 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Ilustrasi Lafadz Allah

Ilustrasi Lafadz Allah

Foto: Foto : MgRol112
Dalam ayat kursi, ketiga bentuk lafaz Allah terkumpul dalam satu ayat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdul Rofiq      

Lafadz Allah dalam bahasa Arab terdiri atas empat huruf, yaitu alif, dua lam, dan ha.

Baca Juga

Keempat huruf ini apabila digabung akan membentuk lafadz Allah. Tentunya kita sering menemui lafadz Allah dalam berbagai bentuknya, di setiap lembar Alquran.

Selain sebagai sayyidu asma al-husna (yang memiliki asmaul husna), ada sebuah keistimewaan tersendiri bila dilihat dari kacamata ilmu alat: nahwu dan sharaf.

Keistimewaannya adalah lafadz yang terdiri atas empat huruf Arab itu mampu berdiri sendiri dan masih mempunyai arti yang sama, meski huruf sebelumnya dibuang satu persatu.

Lafadz Allahu (dalam bahasa Arab) kita buang huruf alifnya, maka akan menjadi Lillahi (milik Allah). Lafadz Lillahi kita buang huruf lam-nya, maka akan berbunyi Lahu (milik-Nya). Kalau dari lafadz Lahu kita buang lagi huruf lam-nya, sehingga hanya tersisa satu huruf saja yaitu Hu (bagi-Nya), sebuah damir (kata ganti) yang maksudnya kembali kepada lafadz Allah.

Ketiga bentuk lafadz ini banyak terdapat dalam Alquran. Seperti ayat Alquran yang menggunakan lafadz Lillahi. ''Segala puji hanya milik Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan yang menjadikan kegelapan dan cahaya.'' (QS Al-An'am: 1).

Ayat yang menggunakan lafadz Lahu: ''Bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia yang menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu.'' (QS Al-An'am: 101).

Sedangkan ayat yang menggunakan lafadz Hu di antaranya: ''Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya, yang demikian itu lebih baik untukmu kalau kamu mengetahui.'' (QS Al-Ankabut: 16).

Dalam ayat Kursi, ketiga bentuk lafadz ini terkumpul dalam satu ayat.

Itulah salah satu keistimewaan lafadz Allah ditinjau dari segi ilmu sharaf. Ini menandakan, lafadz Allah bukan hanya sekadar laqob atau gelar belaka bagi sang Maha Kuasa, sebagaimana yang dikemukakan kaum pluralis, Nama yang sangat Agung itu tentunya melekat kepada Zat Yang Maha Agung pula sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku" (QS Thaha: 14).

Dia-lah Allah dzat Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Sedangkan laqob atau nama lain-Nya adalah asma al husna. ''Katakanlah, Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asma al-Husna (nama-nama yang terbaik) dan jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.'' (QS Al-Isra': 110). Wallahu a'lam bi ash shawab.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA