Monday, 21 Syawwal 1440 / 24 June 2019

Monday, 21 Syawwal 1440 / 24 June 2019

Lemah Lembut, Sifat Dasar Para Nabi

Selasa 21 May 2019 15:51 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Ceramah adalah salah satu metode dakwah (ilustrasi).

Ceramah adalah salah satu metode dakwah (ilustrasi).

Foto: Antara/Feny Selly
Para nabi memiliki sifat dasar antara lain lemah lembut yang datang dari kasih sayang

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fauzan Al-Anshari     

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk" [QS An Nahl (16):125].

Baca Juga

Perintah ber-amar makruf nahi munkar bagi setiap umat Islam menunjukkan perhatian Allah terhadap hamba-hamba-Nya agar senantiasa tetap dalam keadaan mulia, agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan.

Namun, tentunya orang tak bisa menggunakan segala cara untuk ber-amar makruf nahi munkar. Banyak sekali kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang penyeru.

Salah satu syarat yang wajib dipenuhi oleh setiap penyeru kebaikan dan pencegah keburukan adalah seperti disabdakan Nabi SAW, "Tidaklah sepatutnya orang menyuruh yang makruf dan mencegah yang munkar, kecuali memiliki tiga sifat, yakni lemah lembut dalam menyuruh dan melarang, mengerti apa yang harus dilarang, dan adil terhadap apa yang harus dilarang" (HR Addailami).

Sifat lemah lembut adalah sifat dasar yang dimiliki setiap Nabi Allah [QS At Taubat (9):128]. Karenanya, ketika mereka menyeru kaumnya senantiasa bersumber dari rasa kasih sayang yang mendalam, bukan kebencian atau dendam kesumat. Sehingga, bila seruan mereka ditolak, bahkan dibalas dengan keburukan, mereka tetap sabar dan berserah diri kepada-Nya.

Hal itu dicontohkan ketika Rasulullah saw mengajak kaum Thaif supaya beriman kepada Allah agar mereka selamat dari penderitaan di dunia dan akhirat, mereka justru membalasnya dengan lemparan batu dan potongan besi.

Ketika Nabi menyandarkan tubuhnya menahan letih dan rasa sakit di keningnya yang bocor terkena lemparan, datanglah malaikat Jibril menawarkan bantuannya. Tapi, Nabi menolak dengan halus dan mengatakan, ".... Sesungguhnya mereka kaum yang tidak paham" [QS Al Hasyr (59):13].

Maka, datanglah dua orang budak dengan was-was membawakan secangkir minuman atas perintah pemilik kebun di mana Nabi bersandar. Lalu Nabi menerimanya dan membaca basmalah sebelum meminumnya. Mendengar bacaan itu dan melihat wajah Nabi tanpa seraut kebencian, maka rasa takut kedua budak tadi berubah menjadi terpesona. Akhirnya keduanya masuk Islam.

Lemah lembut memang sering diartikan secara apriori, bahkan dilecehkan. Lemah lembut pun sering dianggap dapat membuat kita hanyut. Yang sesungguhnya terjadi adalah orang sering salah menafsirkan sifat lemah lembut. Lemah lembut lebih menekankan pada sikap dan tutur kata yang terkendali dalam menghadapi segala persoalan, tanpa harus mengurangi esensi dari materi yang ingin diserukan.

Kita ingat komentar seorang Khalifah Umayah terhadap pengritiknya yang membabi-buta, katanya, ''Engkau telah membaca kejahatan Fir'aun dan kehebatan Musa as. Sungguh kejahatanku tidak seberat kejahatan Fir'aun dan kehebatanmu tidak melebihi Musa. Tapi, Musa bisa bersifat lemah lembut menyampaikan kebenaran kepada Fir'aun, sedangkan Engkau tidak.'' Tentu saja akan lebih paripurna jika setiap penyeru -- baik rakyat maupun penguasa -- telah lebih dulu memahami isi dan mengamalkan seruannya.

Sumber : Pusat Data Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA