Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Ramadhan dan Perubahan Sosial

Selasa 21 May 2019 04:04 WIB

Red: Agung Sasongko

Ramadhan

Ramadhan

Foto: IST
Puasa Ramadhan menjadi momentum membumikan kesalehan sosial.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Puasa Ramadhan menjadi momentum bagi kaum Muslim untuk melatih diri, menginter nalisasi, dan membumikan kesalehan sosial. Ramadhan mengajarkan ba gaimana kita peduli kepada sesama. Di bulan ini, kita dianjurkan untuk memperbanyak sedekah, bersilatu rahim, dan saling menghargai satu sama lain.

Ramadhan bukan sekadar bulan yang di dalamnya dilaksanakan berbagai amalan dan ibadah untuk menggapai rahmat, maghfirah, dan janji kebahagiaan di akhirat, melain kan dapat dijadikan sebagai landasan bagi Muslim untuk memunculkan sikap solidaritas dan kepekaan sosial, sehingga dapat menimbulkan perubahan sosial yang lebih baik.

Puasa yang secara harfiah bermakna "menahan", tentu harus di maknai secara kontekstual tanpa menanggalkan makna syariatnya. Puasa bukan berarti harus statis karena dalam rekam sejarah per adab an manusia, justru puasa Ramadhan mampu menjadi driving force perubahan sosial.

Puasa Ramadhan melatih kita untuk mampu mengendalikan diri dari segala bentuk hawa nafsu dan degra dasi perilaku yang meruntuhkan de rajat kemanusiaan kita, sekaligus meng asah kepekaan sosial terhadap sesama. Itulah sebabnya anjuran dan larangan-larangan selama kita men jalani puasa memiliki dimensi sosial di baliknya, selalu terkait dengan interaksi kita dengan orang lain.

Ibadah Tarawih (qiyamullail), misalnya, mendorong kita berinteraksi kem bali dengan tetangga. Berjumpa dan berkumpul di masjid. Jika selama ini ke sibukan pekerjaan menghambat pertemuan itu, Ramadhan menyatukan kembali.

Anjuran sedekah dan zakat pada bulan Ramadhan mengajarkan kita prin sip-prinsip filantropi, prinsip ber bagi bahwa harta yang dimiliki oleh setiap insan Muslim sesunguh nya memiliki fungsi sosial. Ia adalah sa rana untuk menciptakan dan memupuk ukhuwah, kepedulian, dan se mangat kesetiakawanan, sekaligus mencair-leburkan jurang ketimpang an dan ketidakadilan sosial. Orang yang berpuasa akan dapat ikut merasakan betapa pahit dan getirnya orang-orang yang kelaparan dan kehausan. Dari perasaan itu akan muncul kepedulian terhadap sesama.

Begitu juga dengan larangan-la rangan pada bulan Ramadhan. Larangan berhubungan seks pada siang hari tebusannya adalah dengan memberi makan 60 orang miskin. Orang yang tidak mampu lagi berpuasa karena alasan sakit, hamil, atau menyusui, tebusannya adalah fidyah (bersedekah memberi makan kepada fakir miskin) (QS al-Baqarah: 184).

Ramadhan harus mampu membawa kita pada perubahan sosial. Sebagaimana juga Alquran diturun kan pada bulan Ramadhan yang telah meng gerakkan perubahan bagi per adaban manusia hingga saat ini. Alquran menjadi kitab penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Di dalamnya, mencakup segala hal yang dibutuhkan. Salah satunya mengatur kehidupan bermasyarakat.

Jika manusia mampu memahami dengan baik bagian-bagian dari Al quran, niscaya ia mampu meng ubah dirinya menjadi lebih baik. Demikian halnya secara kumulatif, jika masya rakat mau dan mampu memahami Alquran lebih dalam, perubahan me nuju lebih baik akan terwujud. Wallahu a'lam. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA