Senin, 18 Rajab 1440 / 25 Maret 2019

Senin, 18 Rajab 1440 / 25 Maret 2019

Merajut Keharmonisan Sosial

Sabtu 16 Mar 2019 04:04 WIB

Red: Agung Sasongko

Orang-orang yang mendirikan shalat termasuk orang yang bertakwa.

Orang-orang yang mendirikan shalat termasuk orang yang bertakwa.

Foto: Antara/Rahmad
setiap Muslim hendaknya menjaga sikap, kata, dan tindakan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hasan Basri Tanjung

Sejatinya, Alquran dan As-Sunnah cukuplah menjadi pedoman bagi setiap Muslim dalam menata kehidupan, baik pribadi, keluarga, masyarakat, maupun bangsa. Umat Islam adalah khairul ummah (umat terbaik) yang terwujud setelah terbentuk khairul jama'ah (masyarakat terbaik). Khairul jama'ah pun akan tercipta, jika lahir khairul usrah (keluarga terbaik). Khairul usrah juga tegak kalau di bangun oleh khairul bariyyah (pribadi terbaik). Itulah tujuan dakwah Islam yang hendak dicapai (QS 3:110, 98:7).

Jika demikian, setiap Muslim hendaknya menjaga sikap, kata, dan tindakan agar tercipta harmoni dalam keluarga dan masyarakat. Alqur an, surah al-Hujurat ayat 6-13, mestinya menjadi pegangan untuk membangun masyarakat berkeadaban (civil society). Paling tidak, ada lima adab keharmonisan dalam menyikapi suasana kontestasi politik di negeri kita saat ini, yakni: Pertama, bersikap kritis terhadap informasi (QS 49: 6). Awal dari disharmoni sosial adalah ke tika akal sehat tak berfungsi baik dalam menge lola informasi (berita). Apakah benar atau bo hong (hoaks)? Jika benar, apakah baik disebar kan?Jangan mudah percaya tanpa klarifikasi (tabayun). Perlu disaring sebelum di-sharing atau diamkan saja.

Ayat ini mengingatkan kita akan kisah al- Walid Bin Uqbah yang diutus ke Bani Musthaliq. Melihat orang-orang ramai menyambut, justru ia takut dan melapor kepada Rasulullah SAW bahwa mereka murtad dan tidak mau bayar zakat. Hampir saja mereka diperangi jika Nabi SAW tidak tabayun terlebih dahulu.

Kedua, menjadi pendamai dalam pertikaian (QS 49:9). Prof Buya Hamka dalam Tafsir Al- Azhar menyebutkan, kata "iqtatalu" tidak hanya berarti "perang", tetapi juga "bertikai". Bela kangan ini, menebar ungkapan 'perang total' dan 'perang badar'. Seharusnya, ada yang mendama ikan dengan adil agar jangan sampai terjadi benturan sosial, yakni para ulama yang istiqamah.

Ketiga, jangan suka mengolok-olok (QS 49:11). Tidak patut orang yang beriman menge jek, merendahkan, atau menertawakan orang lain, apalagi sesama Muslim. Sikap itu ter masuk kesombongan yang sangat dimurkai Allah SWT (HR Bukhari). Ketika mencela orang lain, sebe narnya kita sedang mencela diri sen diri. Sebab, dengan mencela, dengan sendirinya orang pun akan mencela kita dengan aib yang lebih banyak.

Keempat, jangan mudah buruk sangka (QS 49:12). Manakala tidak suka pada seseorang, biasanya segala sesuatu yang dikerjakannya akan terlihat buruk. Orang yang buruk sangka akan selalu mencari-cari kesalahan (tajassas) dan mau tahu urusannya (tahassas) serta meng gunjing (ghibah) dengan membicarakan celanya (HR. Bukhari).

Kelima, jangan merasa paling mulia (QS 49:13). Simpul keharmonisan sosial adalah saling menghargai dan memahami perbedaan, bukan merendahkan. Berbeda itu naluriah manusia yang Allah titipkan bagi semesta, agar terjadi dinamika dan kompetisi dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Bukankah taman yang indah selalu ditumbuhi bunga yang beraneka ragam?

Orang bijak berkata, "Janganlah menghina seseorang sebab setiap orang ada kelebihan nya". Tak seorang pun yang patut merasa paling suci sebab Allah SWT tahu siapa kita sebenarnya (QS 53:32). Akhirnya, setiap ucapan dan kelakuan adalah pembelajaran bagi anak-anak kita. Jika tidak mampu menjaga adab keharmonisan ini, boleh jadi akan lahir generasi tak beradab dan ke lak kita termasuk orang yang bangkrut amal ibadahnya (al-muflis). Allahu a'lam bish-shawab.

Sumber : Hikmah Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA