Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

(Bukan) Pendusta Nikmat-Nya

Rabu 13 Feb 2019 04:04 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: blog.science.gc.ca
Manusia tempat salah dan lupa

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Biki Zulfikri Rahmat    

JAKARTA -- Manusia tempat salah dan lupa – alinsanu mahalul khatha wa nisyan. Karena kerap berbuat salah dan lupa inilah, kadang kita – sebagai manusia – melu pakan nikmat Allah yang tak akan mam pu dihitung angka, dikalkulasi secara kuanti tatif, dan dibilang dengan rumus matematika. Allah SWT berfirman, "dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)" (QS Ibrahim [14]: 34).

Lupa terhadap nikmat Allah, dapat mengakibatkan lahirnya perilaku salah dengan cara mendustakan apa yang diberikan-Nya. Dalam perspektif piskologi Islam, hal ini terjadi karena kita memiliki kebutuhan hidup yang dikendalikan hawa nafsu sehingga tidak pernah merasa puas. Terkadang, kita selalu merasa tidak puas dengan nikmat dari Allah karena nafsu duniawi yang tertanam dalam diri sangat kuat. Tak heran jika kita mendapatkan rezeki berupa kekayaan berlimpah, kerap menginginkan kekayaan itu semakin berlimpah dan bertambah.

Perilaku rakus, kalau kita umpamakan seperti kerakusan raja Firaun terhadap ke kuasaan, yang mendapatkan madharat sosial dengan cara terasing dari lingkungan karena hidupnya selalu dikendalikan motif duniawi. Kekayaan pun hanya untuk pribadi, dan tak sudi berbagi dengan sesama manusia. Inilah yang disebut sebagai pendusta nikmat, yang tak pernah puas dengan nikmat dari Allah.

Di dalam kitab Alquran, secara tegas Allah SWT memberikan ancaman (punishment) kepada orang-orang kaya yang serakah dan hidup bermewah-mewah (mutrafun) bahwa mereka akan ditimpa kehancuran (QS al-Isra [17]: 16). Secara historik, ayat ini menyindir para pemuka orang-orang Makkah kaya raya pada saat itu. Di dalam Surah yang lain, yakni Surah al-Fajr ayat 17 sampai 20, dijelaskan mereka (mutrafun) banyak menduduki kursi kekuasaan di Makkah pada masa pra-Islam sehingga Makkah saat itu pantas disebut mirip negara plutokratif (di mana pemerintahannya ialah orang kaya).

Kenikmatan di dunia hanya bersifat semen tara. Ia (kenikmatan dunia) hanya mam pu membuat kita tertawa beberapa saat, lalu mengingkari nikmat-Nya kembali. Karena itu, agar kita tidak termasuk sebagai pendusta nikmat, Islam selalu mengajarkan untuk saling berbagi, menolong, dan membantu sesama apabila memiliki kelebihan harta agar hidup kita tidak terasing secara sosial.

Atas dasar itulah, khalifah Umar bin Khattab RA mendirikan lembaga bernama Baitul Mal, agar kekayaan mampu didistribusikan dan dikelola untuk kepentingan rakyat miskin. Dari beberapa departemen, di Baitul Mal, terdapat Departemen Jaminan Sosial yang bertugas memberi dana bantuan pada fakir miskin.

Jadi, pendirian Baitul Mal tak sekadar alasan teritorial semata, di mana kekuasaan Islam semakin meluas; tapi untuk mendistribusikan kesejahteraan (nikmat dari Allah) kepada rakyat miskin.

Dengan mendistribusikan melalui gerakan tersebut, misalnya, dengan zakat, infak, dan sedekah; tentunya umat Islam akan terhindar dari label mutrafun (orang kaya serakah). Sebab, zakat, infak, dan sedekah dapat membersihkan diri dari keserakahan terhadap dunia sehingga tercipta suatu kondisi di mana kekayaan tak menjajah diri. Dengannya pula, keadilan dan kesejahteraan negara akan menjadi milik semua rakyat. Wallahu a'lam. ¦

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA