Sabtu 20 Oct 2018 12:28 WIB

Peka Terhadap Dosa

Muhasabah diri yang harus dilakukan oleh setiap insan beriman.

Berdoa Ilustrasi
Foto: Antara
Berdoa Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, OLEH Lidus Yardi

Tatkala ditimpa musibah, sering kita bertanya, Mengapa ini terjadi pada diri saya? Apa dosa saya ya Allah? Ya, kita lupa dengan dosa yang kita lakukan. Sehingga, kita bertanya kepada Allah atau kepada diri sendiri, apa dosa yang telah dilakukan sehingga menyebabkan musibah terjadi.

Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak peduli dengan dosa dan boleh jadi menganggap remeh suatu dosa. Sehingga, kita merasa tidak perlu mengingatnya atau karena banyaknya dosa, kita lupa dosa mana yang harus diingat.

Namun, mengaitkan musibah yang terjadi dengan dosa yang dilakukan, meski lupa dosa yang mana, sudah merupakan perkara luar biasa bagi seorang hamba. Paling tidak itu menunjukkan kesadaran dan kepekaan diri bahwa musibah yang terjadi memang berkaitan dengan dosa karena itu bentuk muhasabah diri yang harus dilakukan oleh setiap insan beriman.

Karena itu, tatkala bencana terjadi di suatu tempat lalu ada pihak menyebut keburukan yang dilakukan di tempat itu, hal itu tidaklah terlalu salah. Sebab, memang hampir seluruh kisah di dalam Alquran bahwa di mana suatu kaum dihancurkan oleh Allah dengan berbagai bencana selalu berkaitan dengan dosa yang mereka lakukan.

Dosalah yang menyebabkan kaum Nabi Nuh AS diazab dengan banjir besar yang bahkan menutupi gunung- gunung. Dosalah yang mengundang datangnya suara menggelegar kepada kaum Tsamud yang memotong jantung-jantung mereka. Dosalah yang menyebabkan negeri kaum Nabi Luth AS dibalikkan oleh Allah. Dosalah yang menyebabkan Fir'aun dan kaumnnya ditenggelamkan ke Laut Merah.Dosalah yang menyebabkan datangnya awan api yang menghujani kaum Syu'aib.

Allah Ta'ala telah mengingatkan, apa pun musibah yang terjadi, berupa kerusakan yang terjadi di darat maupun di lautan, disebabkan ulah tangan manusia, yakni kemaksiatan dan dosa- dosa yang dilakukannya (lihat QS ar- Rum: 41). Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata, Tidaklah musibah itu turun kecuali akibat dosa, dan tidaklah ia bisa diangkat kecuali dengan tobat nasuhah. (Al-Jawabul Kaafi, hal. 87).

Dalam ayat yang lain, Allah Ta'ala berfirman yang artinya, Dan apa pun musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri (dosa), dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu. (QS asy- Syura: 30). Sungguh ironi ketika musibah datang justru tidak merasa berdosa, menganggap musibah yang terjadi hanya karena alam lagi murka dan tidak bersahabat.

Kita layak berkaca kepada para ulama (salaf) terdahulu bagaimana mereka memandang dan menyikapi musibah. Mereka tidak saja menyadari dan mengaitkan setiap musibah yang terjadi atas diri mereka dengan dosa, tetapi juga ingat dosa apa yang telah mereka lakukan. Sensitivitas atau kepekaan mereka terhadap perbuatan dosa sungguh luar biasa. Mereka adalah teladan kita dalam menyikapi musibah.

Dikisahkan, seorang tabiin, Muhammad ibn Sirin, pernah dipenjara karena belum mampu membayar utang. Menyikapi musibah yang terjadi pada dirinya, ia berkata, Ini adalah cobaan yang ditimpakan kepadaku akibat dosa yang pernah aku lakukan 30 tahun yang lalu. Dosa yang dilakukannya adalah mengatakan kepada orang fakir yang ditemuinya, Hai orang yang bangkrut!

Imam Sufyan ats-Tsauri pernah berkata, Aku pernah terhalang melakukan shalat malam selama lima bulan karena satu dosa yang aku lakukan. Lalu, ada yang bertanya kepadanya, Dosa apakah itu? Ia menjawab, Aku melihat seorang laki- laki menangis, lalu aku berbisik di dalam hatiku, `Orang ini riya!'

Juga terkenal ungkapan dari kalangan salaf, Tidaklah aku lihat perubahan buruk atas perangai istriku dan liarnya binatang ternakku, kecuali aku ingat dosa yang pernah aku kerjakan 40 tahun yang lalu. Begitulah sensitivitas para ulama rabani dahulu menyikapi musibah.Mereka tidak saja ingat dosa, tetapi juga ingat dosa apa yang pernah mereka lakukan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement