Rabu, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 Januari 2019

Rabu, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 Januari 2019

Abdul Mu'ti: Bangsa Indonesia Sejak Lahir Hidup Rukun

Kamis 10 Jan 2019 19:37 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu'ti

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu'ti

Foto: dokumen
Perlu kembali ke kekayaan kultural untuk merawat keindonesiaan.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA –  Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat majemuk dibanding dengan bangsa manapun di dunia. Meski demikian Bangsa Indonesia bisa tetap hidup rukun dan menjadi sebuah negara yang majemuk. 

Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu'ti mengatakan, Bangsa Indonesia sejak lahir sudah hidup rukun. DNA orang Indonesia harmoni. 

Bahkan, Mu’ti beranggapan, melihat Indonesia menggunakan pendekatan sosiologi, munculnya gejala sinkretisme dalam umat beragama karena menghindari ketegangan.  

"Munculnya sinkretisme untuk mencari harmoni di antara yang sudah eksis di masyarakat dengan keyakinan baru yang dibawa oleh masyarakat atau ke dalam suatu masyarakat," kata Mu'ti saat Dialog Kebangsaan Lintas Agama di Gedung PP Muhammadiyah, Kamis (10/1). 

Ia menyampaikan, untuk membangun dan merawat keindonesiaan, perlu kembali ke dalam kekayaan kultural yang sudah dimiliki Indonesia. Bangsa Indonesia sejak lahir sudah hidup rukun. 

Mu'ti juga menyoroti fenomena orang-orang yang tidak lagi menggunakan nalar kritis saat ini. Menurutnya hal tersebut terjadi karena ada culture lag (keteteran budaya). 

Culture lag terjadi ketika sebuah produk teknologi belum pas dengan tingkat pengetahuan masyarakat penggunanya. Mungkin juga belum pas dengan tingkat ekonomi suatu masyarakat. 

"Orang bisa saja membeli gadget (smartphone) yang sangat mahal dengan fitur yang lengkap, tapi kalau dia tidak mampu menggunakannya, dia hanya pakai SMS dan telepon saja, padahal banyak sekali (fitur) tersedia di situ," ujarnya. 

Mu'ti menjelaskan, bahkan dampak negatif dari cultur lag, sesuatu yang sesungguhnya bisa bermanfaat justru digunakan untuk hal-hal yang mendatangkan mudarat. Hal inilah yang menjadi tantangan Bangsa Indonesia saat ini.

Ia menyampaikan, sejumlah pihak ada yang mengatakan demokrasi akan berjalan dengan baik kalau masyarakat tersebut sudah pas dengan demokrasi. Tapi kalau masyarakat masih miskin demokrasinya, maka logika akan kalah dengan logistik. 

"Kalau demokrasi memang belum pas dengan budaya kita, akhirnya yang terjadi transaksional, agama dalam konteks ini menghadapi tantangan yang luar biasa," jelasnya.

Dialog Kebangsaan Lintas Agama yang mengusung tema Tantangan Agama dan Kebangsaan di Era Post Truth digelar Gerakan Suluh Kebangsaan bersama PP Muhammadiyah. 

Dialog dihadiri Tokoh Katolik dan Budayawan Benny Susetyo yang akrab disapa Romo Benny, Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Prof Mahfud MD dan para tokoh lintas agama lainnya. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES