Jumat 03 Dec 2010 03:36 WIB

Dokumen Wikileaks Hanya Rekayasa untuk Merusak Hubungan Muslim

Rep: Press TV/ Red: Budi Raharjo
Sheikh Sabar Ahmed al-Sabah
Foto: Press TV
Sheikh Sabar Ahmed al-Sabah

REPUBLIKA.CO.ID,KUWAIT CITY--Emir Kuwait, Sheikh Sabah Ahmed al-Sabah, menganggap nota diplomatik milik Amerika Serikat yang dibocorkan Wikileaks sebagai rekayasa untuk menghancurkan hubungan antara negara-negara Islam. Dokumen itu pun ditegaskan tak akan memengaruhi hubungan negara-neagra Arab dengan Iran.

Situs Wikileaks Ahad lalu merilis sekitara 250 ribu dokumen rahasia Ameria Serikat yang beberapa di antaranya menyentuh isu sensitif hubungan antara negara-negara Arab dengan Iran. ''Hubungan antara Republik Islam Iran dan negara Arab sangat penting,'' ujarnya dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran, Manouchehr Mottaki di Kuwait City, Rabu (1/12).

Rekayasa melalui Wikileaks itu ditegaskannya tak akan mengganggu hubungan persaudaraan antara Iran dengan negara-negara Arab. Sheikh Sabah dan Mottaki juga membahas perkembangan isu internasional terbaru dan hubungan kedua negara.

Emir Kuwait menganggap dokumen yang dipublikasikan Wikileaks sebagai perbuatan jahat orang sakit yang ingin merusak hubungan negara-negara di kawasan Teluk. Mottaki berada di Kuwait untuk menghadiri konferensi internasional untuk pembangunan Sudan Timur.

Sebelumnya, Arab Saudi juga telah membantah isi dokumen Wikileaks yang menyebutkan Raja Abdullah mendesak Amerika Serikat untuk menyerang Iran. ''Kerajaan Arab Saudi menolak seluruh klaim tersebut. Ini bukan kali pertama klaim tersebut muncul di media massa,'' ujar kuasa usaha Arab Saudi di Teheran seperti dikutp kanto berita Mehr, Selasa (30/11).

Sementara Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menggambarkan dokumen yang dirilis Wikileaks sebagai bagian dari perang psikologi terhadap Iran. ''Pemerintah AS merilis dokumen dan membuat penilaian berdasarkan keinginan mereka sendiri. Itu semua lebih pada perang psikologis dan tak ada dasar hukumnya,'' ungkapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement