Senin , 19 Juni 2017, 11:54 WIB

Muzakki Pengguna Layanan Zakat E-Commerce Masih Sedikit

Rep: Fuji E Permana/ Red: Gita Amanda
ecommerce
ecommerce

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menggandeng enam pusat jual beli daring terkemuka untuk mempermudah masyarakat berzakat. Sehingga, muzakki bisa berzakat menggunakan layanan e-commerce.

Direktur Baznas, Arifin Purwakananta mengatakan, zakat yang dihimpun melalui layanan e-commerce baru dua persen. Penyaluran zakat melalui layanan e-commerce tahun ini ditargetkan naik sampai 30 persen.

"Yang dimaksud 30 persen adalah orang yang membayar zakat melalui layanan e-commerce, kalau yang membayar zakat melalui transfer antar bank sudah mencapai 30 persen," kata Arifin kepada Republika.co.id akhir pekan lalu.

Ia menerangkan, memang masih banyak orang yang membayar zakat secara tunai karena ingin memakai doa sambil bersalaman. Kalau tidak membayar zakat secara tunai dianggap kurang afdol. Padahal, meski berzakat melalui layanan e-commerce maupun transfer antar bank uangnya tetap sampai kepada orang yang membutuhkan.

Mengenai muzakki yang menggunakan layanan e-commerce masih sedikit, dikatakan Arifin, bukan berarti pasar e-commerce kecil. Hal ini terjadi karena masyarakat belum seluruhnya teredukasi tentang pemanfaatan teknologi digital.

"Pembayaran zakat digital di Indonesia juga masih kecil dibanding pasar aslinya," ujarnya.

(Baca juga: Pembayaran Zakat Melalui Layanan Digital Meningkat)

Ia menyampaikan, Baznas sudah bekerjasama dengan enam pusat jual beli online terkemuka. Jadi, layanan e-commerce sudah cukup baik meski muzakki pengguna layanan tersebut masih sedikit. Tapi, ditegaskan dia, Baznas tidak bicara hari ini. Baznas mengincar generasi muda yang saat ini sedang sekolah di perguruan tinggi.

"Mahasiswa yang sekarang semester tiga-semester empat, dua tahun lagi jadi muzakki, mereka lah yang akan kita gaet," jelasnya.

Ia menerangkan, kalau diperhatikan, pembayaran Jalan Tol dan Trans Jakarta sudah ada yang menggunakan kartu. Di luar negeri pun sudah banyak yang menggunakan kartu untuk membayar segala keperluannya. Di masa depan Indonesia akan seperti itu juga. Waktunya tidak akan terlalu lama sampai ketika orang-orang menggunakan layanan e-commerce.

"Kalau Baznas tidak belajar elektronik, maka Baznas akan terjerembab ditinggalkan," ujarnya.