Kamis , 10 August 2017, 22:15 WIB
Kisah Inspiratif

Garaudy: Keterasingan Manusia Modern karena tak Akui Tuhan

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
Screen Shoot Google
Roger Garaudy
Roger Garaudy

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Jauh sebelum memeluk Islam, Roger Garaudy sudah mendeteksi adanya krisis peradaban dalam masyarakat Barat. Untuk itu, proyek besar pemikiran Garaudy berkutat pada soal moral dan politik. Menurutnya, dua hal tersebut seharusnya mampu membimbing sains sehingga tidak menafikan kema nusia an.

Dia menyatakan, pentingnya pembebasan manusia dari keterasingan (alienation). Alienasi dapat dialami baik kelompok penindas maupun yang tertindas. Mengikuti semangat Marx, menurutnya, tugas filsafat tidak terbatas pada memahami realitas, tetapi juga mengubahnya. Kesadaran manusia mesti terbangun agar dapat bergerak menuju masa depan yang lebih adil.

Meskipun terilhami Marx, pokok dasar gagasan-gagasan Garaudy jauh berbeda. Marxisme menolak adanya realitas di luar materi. Sementara, Garaudy menegaskan, pentingnya transendensi, yakni relasi vertikal antara makhluk (manusia) dan Sang Pencipta. Keterasingan manusia modern cenderung disebabkan pengabaian mereka terhadap (eksistensi) Tuhan. Dia menegaskan, pentingnya wahyu sebagai penuntun sekaligus harapan bagi umat manusia.

Karena itu, menurutnya, tidak ada pemisahan antara yang suci dan yang profan. Paham-paham yang menjanjikan emansipasi sejatinya hanya mengganti sakralitas wahyu dengan penyakralan keyakinan ilmiah. Marxisme, misalnya, dengan materialisme historis meyakini gerak sejarah yang akan memenangkan kelas sosial tertentu atas kelas sosial yang lain.

Saat masih beragama Nasrani, Garaudy meyakini hubungan antara tuhan dan sejarah dalam kerangka berikut. Tuhan menciptakan alam semesta dalam enam hari. Kemudian, tuhan berhenti mencipta pada hari ketujuh. Sejak hari kedelapan, tulis Garaudy, ma nusia adalah tuhan.

Dalam arti, manusia melakukan tugas penciptaan, aktif bekerja, dan membuat sejarah. Begitu menjadi seorang Muslim, Garaudy tersadar akan hubungan vertikal hablu mina Allah. Ia meyakini wujud Allah yang transenden. Keyakinan demikian sebenarnya sudah terpantik sejak Garaudy membaca pemikiran filsuf-sastrawan Jerman, von Goethe