Rabu , 01 February 2017, 04:43 WIB

Kemunculan Komunitas Muslim Tionghoa di Nusantara

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nidia Zuraya
Republika/Agung Supriyanto
Jamaah mendengarkan Khotbah Jumat di Masjid Lautze, Pasar Baru, Jakarta. Masjid yang berarsitektur khas etnis Cina ini banyak dikunjungi Muslim keturunan Tionghoa.
Jamaah mendengarkan Khotbah Jumat di Masjid Lautze, Pasar Baru, Jakarta. Masjid yang berarsitektur khas etnis Cina ini banyak dikunjungi Muslim keturunan Tionghoa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komunitas Muslim Tionghoa diperkirakan mulai bermunculan di Nusantara setelah pelayaran yang dilakukan seorang laksamana Muslim bernama Cheng Ho pada awal abad ke-15. Cheng Ho telah mengunjungi sejumlah wilayah yang ada di Indonesia pada masa itu.

Sejarawan Kajian Lokal, Tendi mengatakan, tidak ada bukti yang dapat menunjukan waktu datangnya etnis Tionghoa Muslim pertama kali datang ke Nusantara. Namun, berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan menunjukan gerak masif migrasi Muslim Tionghoa terjadi sekitar awal abad ke-15.

"Terjadi setelah diadakannya berbagai pelayaran yang dilakukan Laksamana Cheng Ho, dia banyak menyinggahi wilayah Nusantara pada awal abad ke-15," katanya.

Ia menjelaskan, pelayaran Muslim Tionghoa tersebut tercatat dalam naskah klasik yang ditulis Ma Huan dengan judul Yingyai Shenglan, ditulis pada abad ke-15. Naskah tersebut berisi tentang kisah perjalanan Cheng ho ke berbagai wilayah termasuk Indonesia. Ma Huan sendiri diyakini sebagai penerjemah Cheng Ho di dalam ekspedisinya.

Tendi yang juga Dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon menerangkan, keberadaan Cheng Ho sangat mempengaruhi kehidupan Tionghoa Muslim di Indonesia khususnya. Karena dengan kehadirannya ada beberapa dampak positif yang terjadi.

Pertama, banyak bermunculan komunitas Muslim Tionghoa. Kedua, ada upaya konsolidasi komunitas Muslim Tionghoa, khususnya madzhab Hanafi sehingga semakin kuat.

Ketiga, akulturasi dalam bidang arsitektur bangunan. Seperti bangunan Masjid dan bangunan lainnya. "Keempat, yang paling penting, Cheng Ho mewariskan ajaran kerukunan umat beragama dalam pergaulan masyarakat yang multikultural," ujarnya.

Menurutnya, besar kemungkinan komunitas Muslim Tionghoa banyak yang tinggal di pesisir utara Pulau Jawa. Karena di sana diperkirakan pernah menjadi pusat perniagaan Internasional.

Tokoh Muslim Tionghoa yang juga Ketua Umum Himpunan Bina Mualaf Indonesia (HBMI), Syarif Siangan Tanudjaya menambahkan, sepengetahuannya Muslim Tionghoa datang ke Nusantara sejak beberapa abad yang lalu. Tujuan mereka untuk berdagang. Sementara, etnis Tionghoa yang datang belakangan secara massal di masa penjajahan Hindia-Belanda, mereka adalah Tionghoa non Muslim.

"Mereka banyak yang bekerja sebagai tenaga kerja di pertambangan dan perkebunan," ujarnya.

Berdasarkan literatur yang dia ketahui, menurutnya, sebelum Laksamana Cheng Ho sampai ke Nusantara. Sudah ada etnis Tionghoa Muslim yang sampai lebih dulu dan menetap di Palembang dan beberapa wilayah lainnya. Namun, mungkin setelah kedatangan Cheng Ho, komunitas Muslim Tionghoa menjadi semakin bertambah.