Senin 30 Jul 2012 20:30 WIB

Zaid Al-Khair, Karakter yang Disukai Allah (1)

Rep: Hannan Putra/ Red: Chairul Akhmad
Ilustrasi
Foto: wordpress.com
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Manusia bagai barang tambang. Mereka yang terbaik pada masa jahiliyah, terbaik juga pada masa Islam.

Milikilah dua karakter yang telah diterapkan oleh seorang sahabat pada masa jahiliyah, kemudian tonjolkan pula pada masa Islam.

Sahabat tersebut pada masa jahiliyah dipanggil Zaid Al-Khail dan pada masa Islam dipanggil oleh Rasulullah SAW sebagai Zaid Al-Khair.

Suatu kali pada masa Jahiliyah, Zaid Al-Khail menggembalakan unta-unta milik saudara perempuannya. Jumlahnya kira-kira seratus ekor.

Menjelang Maghrib, Zaid yang dibantu dua orang sahayanya menambatkan unta-untanya dekat sebuah tenda yang terbuat dari kulit. Di dalam tenda, tinggal seorang tua bernama Muhalhil, ayah Zaid Al-Khail.

Zaid maupun kedua pembantunya tak menyadari kehadiran seorang tamu tak diundang yang sejak tadi mengintai dari balik semak. Malam kian larut, dingin, dan pekat. Zaid Al-Khail dan kedua pembantunya tertidur kelelahan setelah seharian menggembalakan unta. Begitu pun dengan ayah Zaid, Muhalhil.

Dalam kegelapan malam, sesosok bayangan berkelebat mendekati tempat unta jantan ditambat. Ia lepaskan ikatan tali unta itu, dan menungganginya meninggalkan tenda. Unta-unta lainnya mengikuti unta jantan itu.

Zaid baru menyadari unta-untanya raib ketika bangun tidur di pagi hari. Tanpa pikir panjang ia raih tali kekang kuda dan memacunya mengejar si pencuri. Menjelang tengah hari, Zaid baru menemukan jejak si pencuri. Ia pun makin mempercepat memacu kudanya. Akhirnya Zaid Al-Khail berhasil menemukan si pencuri.

Merasa dirinya terkejar, si pencuri segera turun dari unta jantan yang ditungganginya dan menambatkannya pada sebatang pohon kering. Si pencuri mengeluarkan anak panah dan membidikkan pada Zaid Al-Khail.

“Lepaskan unta jantan itu!” perintah Zaid dari atas punggung kudanya.

“Tidak!” jawab si pencuri. “Aku meninggalkan keluargaku di Hirah (Irak) dalam kondisi kelaparan. Aku telah bersumpah tidak akan kembali kepada mereka sebelum berhasil membawakan mereka makanan atau aku mati karenanya.”

“Lepaskan unta jantan itu!” bentak Zaid mengulangi perintahnya.”Jika tidak kamu lepaskan, kubunuh kamu.”

“Tidak! Aku tidak akan melepaskan unta itu, apa pun yang terjadi!” tantang si pencuri sambil tetap membidikkan anak panahnya ke arah Zaid Al-Khail.

Zaid Al-Khail berkata,”Kalau begitu, rentangkan tali unta jantan itu. Di situ terdapat tiga simpul. Tunjukkan padaku simpul mana yang harus kupanah.”

sumber : 101 Sahabat Nabi karya Hepi Andi Bastoni
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement