Sabtu , 13 January 2018, 06:26 WIB

Mengungkap Masa Depan Palestina

Rep: mg02/ Red: Agung Sasongko
Republika/ Tahta Aidilla
Palestina
Palestina

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konsistensi dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan bangsa Pales tina mendapat banyak apresiasi. Mulai dari pembangunan Rumah Sakit In do nesia (RSI) di Gaza atas inisasi Medical Emergency Rescue- Committee (MER-C), Aksi Bela Palestina di Lapangan Monas, hingga du kung an dari pengajianpengajian.

Pengajian Bulanan PP Mu ham madiyah, misalnya. Pada Jum at (5/1) pekan lalu, PP Mu ham madiyah sengaja mengang kat tema "Masalah Yerusalem dan Masa Depan Palestina" yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Ja karta.

Sekretaris Umum PP Muham madi yah Abdul Mu'ti mengata kan, tema ini menjadi bagian dari persoalan yang serius. Ini men jadi salah satu persoalan yang me nyita perhatian semua kalangan. "Kalau kita perhati kan, persoalannya semakin kompleks dan tidak sederhana," kata nya.

Persoalan Yerusalem ini bu kan lah semata-mata persoalan politik antara Israel dan Pales tina, tetapi sudah mencakup pa da persoalan kemanusiaan dan persoalan kedaulatan. Kalau diperhatikan, Israel khu susnya di masa Benjamin Ne ta nyahu, sering melakukan kejahatan dengan membunuh manu sia. Kebanyakan korbannya ada lah anak-anak dan orang yang lemah.

"Kalau kita mengaitkan itu dengan Alquran, maka jelaslah bahwa apabila membunuh satu nyawa sama saja dengan membunuh manusia seluruhnya. Pa da hal, sejak awal Allah sudah meng ingatkan untuk tidak membunuh jiwa," katanya. Alquran secara gamblang me nyinggung banyak hal soal kehi dupan. Hal ini adalah bagian dari bagaimana Allah menyempurnakan ciptaannya untuk manusia dan bagian membuat manusia me miliki makna dalam kehidupannya.

"Sebab itu manusia tidak bo leh merampas kehidupan manu sia yang lainnya. Apalagi merampas itu karena ketidaksukaan mereka terhadap orang lain. Kehidupan itu sangat erat kaitannya dengan mesin seseorang di hadapan orang lain dan makna seseorang dihadapan Allah SWT," ujarnya.

Di hadapan ratusan jamaah yang hadir, Abdul Mu'ti mengaku tidak terlalu kaget dengan ting kah laku Israel. Sebab, Alquran sudah menjelaskan bahwa Israel adalah kelompok manusia yang brutal. Mereka suka membunuh nabinya sendiri, mereka juga tak segan membakar nabinya. "Rasul-rasul Allah itu paling banyak diturunkan kepada bang sa Israel. Tetapi sudah banyak rasul yang turun pun bandelnya masih luar biasa," katanya.

Dalam konteks ini, kata dia, sikap dan pandangan Muham madiyah terhadap persoalan bang sa Palestina diletakkan da lam hubungan teologis tentang arti dan makna kehidupan serta bagaimana manusia harus me muliakan kehidupan dan memuliakan sesama manusia. "Pembukaan UUD 1945 su dah sangat tegas bahwa penjajah an di atas dunia harus dihapus kan, karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan," kata dia.

Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia (Wamenlu) AM Fachir mengatakan, masa depan Pales tina itu bergantung Yeru sa lem. Status Yerusalem ini kemudian menjadi salah satu isu utama da lam setiap pembahasan pada ber bagai macam forum termasuk negosiasi. "Status Yerusalem tidak bisa diganggu gugat kecuali apabila kedua pihak bersepakat. Jadi, apabila ada salah satu pihak yang mengambil keputusan secara se pi hak maka dianggap tidak sah," kata Fachir