Wednesday, 8 Ramadhan 1439 / 23 May 2018

Wednesday, 8 Ramadhan 1439 / 23 May 2018

Risalah 4.000 Kilometer

Senin 08 January 2018 17:15 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Kitab Kuning

Ilustrasi Kitab Kuning

Foto: Republika/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Ahmad Ibnu Fadlan harus memutar ke arah timur melewati Iran, menempuh Jalur Sutra melalui Khurasan dan Asia Tengah untuk selanjutnya melewati Jalur Bulu untuk menjangkau Kerajaan Bulghar, yang terletak jauh di utara wilayah Dinasti Abbasiyah. Alasannya, di sepanjang Laut Hitam, tepatnya di sekitar muara Sungai Don, terletak Kerajaan Khazar yang membentengi antara Eropa Timur dan Timur Tengah.

Kerajaan Khazar mulanya penganut pagan. Na mun, karena terjepit dalam konflik antara per adaban Kristen Bizantium (Romawi Timur) dan peradaban Islam di Timur Tengah, pada abad 8 M Khazar akhirnya memilih jalan tengah dengan memeluk agama Yahudi.

Bangsa Bulghar yang awalnya mendiami utara Laut Hitam terdesak oleh Khazar, sebagian beremigrasi ke barat dan mendiami wilayah yang kini disebut Bulgaria. Sisanya bergerak ke timur laut dan membentuk komunitas Muslim di hulu Sungai Volga, utara Laut Kaspia.

Menurut Richard Frye, dalam bukunya Ibn Fadlan’s Journey to Russia: A Tenth-century Traveler from Bagh dad to the Volga River, Raja Bulghar bernama Almish Ibn Shilki Elteber meminta bantuan Dinasti Abbasiyah dalam pembangunan masjid, pengajaran agama, dan membangun benteng untuk menahan serbuan Khazar.

Khalifah al-Muqtadir kemudian mengutus Ibnu Fadlan untuk menempuh perjalanan sejauh lebih dari 4.000 kilometer itu. Rombongan Ibnu Fadlan meng alami berbagai rintangan, seperti disergap bandit kaum Turki Oghuz di Azerbaijan walau akhirnya berhasil lepas setelah menyuap. Ketika menyusuri Sungai Volga, bertemulah dia dengan sebuah bangsa yang posturnya sangat berbeda dengan Bangsa Bulghar, tradisinya mirip dengan Bangsa Viking, walau tetap disebutnya sebagai Bangsa Rus.

Nah, para ahli sejarah kontemporer bersilang pendapat mengenai siapa saja yang dimaksud oleh orang Arab sebagai Bangsa Rus itu. Ciri-ciri Bangsa Rus yang ditulis Ibnu Fadlan sangat mirip dengan Viking. Bangsa Viking memang sudah menjelajah kawasan Laut Hitam dan Laut Kaspia melalui jalan darat dari Baltik lewat misi perdagangan, perampokan, atau sebagai tentara bayaran.

Rus diyakini berasal dari kata Ruotsi untuk menyebut Swedia dalam bahasa Finnik. Julukan Viking memang hanya diberikan oleh orang Inggris kepada pengembara dari Laut Utara itu. Orang Prancis dan Italia menyebut orang Viking sebagai Norman (orang utara/Nordik). Bizantium memakai julukan Varangian.

Namun, sebagian ahli sejarah berkeras bahwa Bangsa Rus itu adalah julukan umum bagi berbagai bangsa, seperti Jermania-Viking, Finnik (Ural dan Baltik), dan Slavik yang menghuni wilayah antara Pegunungan Ural dan Kaukasus yang menjadi bibit bangsa Rusia.

Ketua Perpustakaan Peninggalan Sejarah Eropa James Mayfield menilai, perjalanan Ibnu Fadlan telah gagal secara militer karena tak adanya aliansi kuat antara Bangsa Bulgaria Volga dan Dinasti Abbasiyah. Bahkan, ajaran Islam pun tak bisa sepenuhnya ditegakkan karena hambatan kultural dan masih kuatnya tradisi Turki kuno yang dianut orang Bulghar.

Sebagian orang Rus yang memeluk Islam setelah berinteraksi dengan orang Arab, tulis Ibnu Fadlan, masih merindukan kegemaran lama mereka makan daging babi dan sulit menghentikan kebiasaan minum alkohol. Menurut Mayfield, kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran Islam inilah yang membuat Islam sulit berkembang di kalangan Bangsa Rus.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES