Senin , 11 December 2017, 12:07 WIB

Mu'ti: Penolakan Ceramah Agama adalah Bentuk Intoleransi

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Agus Yulianto
dokumen
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu'ti
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu'ti

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penolakan safari dakwah Ustaz Abdul Somad di Pulau Bali oleh anggota ormas setempat telah mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, sangat menyayangkan terjadinya aksi penolakan terhadap tabligh akbar Ustaz Somad tersebut.

Menurutnya, lebih disayangkan lagi jika penolakan itu disebabkan oleh sentimen agama. Jika persoalan hanya menyangkut komunikasi antara panitia dan masyarakat serta aparat keamanan, dia menilai, penolakan tersebut masih bisa dimaklumi. Kendati masalahnya telah dianggap selesai, namun dia mengatakan, bahwa kecenderungan penolakan massa atas ceramah agama oleh ustaz tertentu tidak boleh terus dibiarkan.

"Kecenderungan penolakan pengajian merupakan bentuk sikap intoleransi. Ini masalah serius yang harus ditangani secara komprehensif oleh berbagai pihak," kata Abdul Mu'ti, saat dihubungi Republika.co.id, Senin (11/12).

Mu'ti mengatakan, dalam mengadakan tabligh, masyarakat harus mengikuti hukum dan aturan yang berlaku. Menurutnya, pihak panitia harus memenuhi aturan jika memang harus mendapatkan izin. Akan tetapi, jika telah mengantongi izin, ia menekankan agar aparatur keamanan menjamin keamanan jalannya pengajian. "Aparat tidak boleh tunduk kepada tekanan massa," katanya.

Mu'ti juga menghimbau agar para ustaz, dalam memberikan ceramahnya, hendaknya senantiasa menyampaikan ajaran agama yang benar dengan pemahaman yang mendalam. Di samping, penyampaian ceramah itu tidak menyerang atau menyakiti pihak lain.

Menurutnya, saling menghormati dan bersikap tenggang rasa sangat diperlukan dalam menjaga perdamaian di masyarakat. Selain itu, Mu'ti juga menghimbau agar masyarakat bisa menahan diri dan tidak tersulut dengan provokasi.

"Penolakan itu bukan konflik Hindu dengan Islam, tetapi lebih merupakan aksi sekelompok orang yang tidak ada hubungannya dengan agama Hindu," ujarnya.

Sebelumnya, Ustaz Somad sempat dihadapkan pada penolakan sekelompok massa yang menamakan diri sebagai Kompenen Rakyat Bali (KRB). Polisi kemudian melakukan mediasi antara pihak penolak dengan Ustaz Somad. Sempat mediasi yang alot, Ustaz Somad akhirnya diizinkan untuk menyampaikan ceramah di Masjid An-Nur.