Jumat , 08 December 2017, 08:15 WIB

Jejak Berharga Sang Proklamator

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
Masjid Biru di Pulau Petrogradsky, Sankt Peterburg.
Masjid Biru di Pulau Petrogradsky, Sankt Peterburg.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Dalam rentang 1940-1956, Masjid Agung St Petersburg ditutup paksa oleh rezim komunis Uni Soviet. Alih-alih ditelantarkan begitu saja, pemerintah ateistik itu mengubah fungsi bangunan masjid menjadi gudang alat-alat medis selama Perang Dunia II.

Namun, kebijakan ini longgar terutama setelah kunjungan Presiden Sukarno, pemimpin Indonesia yang mengadakan kunjungan ke St Petersburg. Seperti dikisahkan Tomi Lebang dalam bukunya, Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia, ketika melintas di atas jembatan Trinity yang membelah Sungai Neva, pandangan Bung Karno terpaku pada sebuah bangunan indah berkubah biru dari kejauhan. Pemimpin Indonesia itu lantas menyambangi tempat itu bersama rombongan.

Betapa terpesonanya Bung Karno dengan bangunan ini. Sayang sekali, fungsinya saat itu telah dialihkan menjadi gudang makanan, meskipun masih menampakkan tanda-tanda sebuah masjid. Bung Karno bertekad mengembalikan peruntukan bangunan ini agar menjadi masjid seperti sediakala, khususnya bagi kaum Muslim. Sejumlah jadwal kunjungan Presiden Sukarno yang telah disusun ke Leningrad dibatalkan, kenang Imam Masjid Agung St Petersburg Zhapar N Panchaev, seperti dikutip buku tersebut.

Kemudian, Presiden Sukarno bertemu pemimpin Rusia. Ketika ditanya ihwal kesannya tentang Leningrad (nama St Petersburg saat itu), Bung Karno justru bercerita lebih banyak soal masjid tersebut. Sukarno meminta masjid ini dikembalikan sesuai fungsinya, katanya. Hanya 10 hari setelah kunjungan Presiden Sukarno, bangunan ini kembali menjadi masjid, jelas Panchaev. Kejadian ini berlangsung pada 1956. Adapun pembenahan besar-besaran atas Masjid Agung St Petersburg baru terlaksana pada 1980. Tercatat, setidaknya sudah ada dua presiden RI yang menyambangi masjid ini, yakni Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono.