Rabu 22 Nov 2017 17:18 WIB

Kalau Maulid Dibid'ah-kan, PCI NU Jordan Diminta Menjelaskan

Kiai Hayid (tengah)
Foto: istimewa/doc pribadi
Kiai Hayid (tengah)

REPUBLIKA.CO.ID, YORDANIA -- Dalam rangka menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 2017 yang jatuh pada 1 Desember 2017, PCI NU Jordan mengelar acara peringatan dan perayaan Maulid Nabi. Acara ini dihadiri pengurus Lembaga Dakwah PBNU, KH Muhammad Nur Hayid atau yang sering disapa Gus Hayid.

Peringatan ini digelar cukup khidmat dengan peserta dari pengurus PCI NU dan kaum muslimin serta mahasiswa Indonesia di Jordan dengan membaca sholawat diba’i dan tausiyah keteladanan rasulullah Muhammad SAW.

Menurut Rais Syuriah PCI NU Jordan, Asyikin Sumarto, acara ini dimaksudkan untuk mempererat silaturahmi antara warga muslim dari Indonesia yang ada di Jordan. Selain itu, tentu tujuan peringatan ini untuk meneladani semua akhlaq rasulullah, dengan kembali mengingat perjuangan dan sejarah perjalanan Rasulullah dan memperbanyak membaca salawat kepada kanjeng nabi.

“Alhamdulillah, kerawuhan kiai Hayid ke Jordan ini kami jadikan momentum untuk konsolidasi pengurus PCI NU Jordan sekaligus untuk memperingati maulid nabi Bersama-sama warga NU dan kaum muslimin di Jordan, baik yang mahasiswa ataupun pekerja,” kata Kiai Asikikn, yang berasal dari Lamongan dan Kandidat Doktor Universitas Uways Jordan ini, dalam siaran pers yang diterima Republika, Rabu (21/11).

Kiai Hayid yang memberikan tausiah dan ceramahnya dalam acara ini meminta peringatan Maulid Nabi ini tidak hanya dijadikan acara seremonial dan fungsi ajang silaturahmi PCI NU dan WNI di Jordan. Tetapi, lebih dari itu, acara ini harus dimaknahi sebagai upaya dan komitmen kita sebagai umat Islam dan umatnya kanjeng nabi mampu meneladani rasulullah Muhammad SAW seutuhnya.

“Dengan membaca kembali sirah nabawiyyah dan sejarah perjuangan rasulullah, diharapkan kaum muslimin yang memperingati maulid nabi akan bisa mengambil hikmah yang sangat banyak. Salah satunya berniat meneladani akhlaq rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga bisa menjadi ajang silaturahmi dan belajar kembali tentang bagaimana rasullullah memperjuangkan Islam dan menjaga perdamaian,” kata Hayid, yang sering mengisi acara serambi Islami di TVRI ini.

Menurut Pengurus Komisi Dakwah MUI Pusat ini, jika ada orang yang masih mempertanyakan keabsahan bolehnya memperingati acara maulid nabi, maka PCI NU Jordan harus bisa menjelaskan dengan baik. Sebab, belakangan ini banyak ustad yang sejatinya tak mau membaca banyak refrensi kitab-kitab para ulama yang diakui keilmuannya, tapi sangat mudah membid’ahkan dan menyesatkan orang lain dan ajaran yang sudah turun temurun digelar dalam tradisi Islam selama ini.

“Kalau ada orang yang sedikit-sedikit Bid’ah, maulid nabi dibid’ahkan dan banyak lagi ajaran NU yang dianggap sesat, calon doktor yang jadi pengurus PCI NU Jordan harus bisa menjelaskan dengan baik kepada mereka. Suruh baca kitabnya Ibnu Hajar Alhaitsami yang berjudul 'Annikmatul Kubro alal alami fi maulidi sayyidi waladi adam',” kata Hayid.

Kiai Hayid menjelaskan bahwa dalam kitab itu, Imam Ibnu Hajar Alhaitsami mengungakapkan bahwa, selain, rasulullah Muhammad SAW sendiri selau memperingati hari lahirnya dengan puasa hari senin. Kitab itu juga mengungkap dan mengutip keutamaan dan afdholiyyahnya orang yang memperingari serta bersodaqoh dalam rangka perayaan dan peringatan maulid nabi Muhammad SAW, mulai dari ungkapan sayyidina Abu Bakar Asshiddiq, Sayyidina Umar Ibnu Khottob, Sayyidina Utsman Bin Affan, Sayyidina Ali Ibnu Abi Tholib, Imam Syafii, Imam Suyuthi dan para ulama besar lainnya.

“Jadi jangan ragu dan bimbang lagi memperingati acara maulid nabi ini. Apalagi niatnya lillahi taala, liqtidaan lisunnati rasulullah dan li syiar islam rahmatan lilalamin dan liajli silaturrahim wasshodaqoh. Insya Allah kita berada di jalan dan benar dan diridloi Allah dan semoga kita mendapatkan syafaatul udhma di hari kiamat kelak,” ungkap Gus Hayid.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement