Senin 13 Nov 2017 15:23 WIB

Kemenag Akui Belum Bisa Penuhi Mushaf Alquran di Masjid

Rep: Muhyiddin/ Red: Agus Yulianto
 Jamaah membaca Alquran di Masjid Istiqlal, Jakarta (Ilustrasi)
Jamaah membaca Alquran di Masjid Istiqlal, Jakarta (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag), Prof Muhammadiyah Amin mengatakan, bahwa selama ini pihaknya telah melakukan pengadaan Alquran untuk umat Islam. Namun, dia mengakui, bahwa saat ini pihaknya belum bisa memenuhi semua kebutuhan mushaf Alquran di masjid seluruh Indonesia.

"Walaupun kami mengakui bahwa kami belum bisa memenuhi semua kebutuhan masyarakat yang besar karena kita tak pernah mencetak Alquran sampai dua juta," ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Senin (13/11).

Amin mengatakan, pada tahun 2017 Kemenag telah mencetak lagi 120 ribu mushaf Alquran standar Indonesia di Gedung Unit Pencetak Alquran (UPQ) Ciawi, Bogor, Jawa Barat pada Selasa (24/10) lalu. Karena itu, dia mengimbau, kepada pengurus masjid atau pun yayasan yang merasa kekurangan Alquran untuk segera mengajukan proposal permohonan.

"Siapa saja yang meminta dengan membawa proposal kita pasti kasih. Kita tidak kasih yang tidak bermohon," ucapnya.

Menurut dia, selama persediaan mushaf Alquran yang telah dicetak masih ada, masyarakat dipersilahkan untuk mengajukan permohonan sesuai persyaratan. Setelah itu, bisa langsung diambil ke Gedung Unit Pencetak Alquran (UPQ) Ciawi, Bogor.

Namun, lanjut dia, khususnya yang berada di daerah akan didistribusikan lewat Kantor Wilayah Kementerian Agama. "Khusus di daerah kami akan melakukan distribusi ke Kanwil masing-masing," katanya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia (DMI), Imam Addaruqutni mengungkapkan, bahwa ketersediaan Alquran di masjid-masjid di Indonesia masih belum cukup untuk umat Islam. Karena itu, ia meminta kepada Kementerian Agama (Kemenag) untuk menggencarkan pengadaan Alquran di masjid, khususnya di daerah-daerah.

"Jadi perlu regenerasi Alquran dalam pengertian pengadaannya, bukan dalam arti Alquran yang baru yang lain, tapi pengadaan itu perlu," ujarnya kepada Republika.co.id, Senin (13/11).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement