Kamis , 14 September 2017, 20:15 WIB

Substansi Peradaban Islam Terletak pada Ilmu

Red: Agung Sasongko
Wordpress.com
Pemimpin yang berilmu (Ilustrasi)
Pemimpin yang berilmu (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peran pemuda tidak terbatas dalam bidang kemiliteran, tapi juga keilmuan. Justru, tradisi ilmu inilah yang giat dikembangkan oleh para pemikir dan cendekiawan zaman dulu. Ibnu Khaldun dalam kitabnya Muqaddimah mengatakan, substansi peradaban Islam terletak pada ilmu. Semua peradaban besar dalam sejarah selalu diawali dengan kebangkitan tradisi ilmu.

Tradisi ilmu yang dibangun Islam tidak sama dengan tradisi ilmu Barat yang sekuler. Jika menilik tradisi pendidikan Islam sejak masa Rasulullah, ada satu fondasi dasar yang wajib dibangun lebih dulu sebelum memasukkan berbagai ilmu-ilmu modern. Dasar itu adalah ilmu Alquran. Seperti kata Imam Syafi'i dalam Diwan al-Imam as-Syafi'i, "Demi Allah, hakikat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa. Jika kedua hal itu tiada padanya, tak bisa disebut pemuda."

Tradisi ilmu itu dilakoni langsung oleh Imam Syafi'i semasa muda. Imam Syafi'i telah menghafal Alquran pada usia sembilan tahun. Setahun kemudian, ia telah hafal kitab al-Muwatha karangan Imam Malik. Imam Syafi'i juga menekuni bahasa dan sastra Arab. Kecerdasan inilah yang membuat Imam Syafi'i dalam usia belasan tahun telah duduk di kursi mufti Kota Makkah. Ia menjadi rujukan dalam berbagai persoalan umat sejak muda.

Salah satu pembeda antara pemuda zaman dulu dan pemuda hari ini terletak pada tingkat kematangan. Muhammad al-Fatih sudah memimpin sebuah ekspedisi besar pada usia 21 tahun. Pada usia yang sama, pemuda kita hari ini masih berkutat dengan tugas-tugas kuliah atau kegalauan hidup.

Generasi Muslim semakin 'manja' atau dimanjakan dengan berbagai kemudahan teknologi. Kita dihadapkan pada pertanyaan, bagaimana mencetak pemuda-pemuda dengan tingkat kematangan tinggi pada usia relatif muda?