Kamis , 24 August 2017, 17:31 WIB

Istiqamah, Mudah Diucapkan Tapi Sulit Dilaksanakan

Red: Agung Sasongko
Allposter.co.uk
Istiqamah Ilustrasi
Istiqamah Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Hidup adalah menapaki masa antara kesulitan kemudian kemudahan. Naik, turun, meluncur, menanjak seperti roller coaster. Dalam masa-masa sulit terkadang kita membutuhkan sebuah nasihat. Nasihat dari orang- orang terbaik yang pernah merasakan banyak kesulitan lantas berakhir dalam kegemilangan.

Marilah kita tengok sebuah nasihat dalam menapaki kesulitan hidup dari Rasulullah SAW. Adalah Abu Amrah Sufyan bin Abdullah RA. Sosok sahabat yang tak banyak dikenal dalam kitab-kitab. Namanya asing dalam mata pelajaran agama di sekolah-sekolah yang hanya dua jam seminggu.

Tapi, Abu Amrah adalah cahaya yang memancarkan sinar lebih terang lagi. Dia adalah sosok sahabat yang cerdas. Suatu ketika ia bertanya kepada Nabi SAW. "Ya Rasulullah," ucapnya memulai perkataan, "Ajarkan  padaku suatu perkara dalam agama Islam yang aku tidak akan bertanya kepada selain engkau."

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini, Abu Amrah tak sekadar bertanya untuk dirinya. Ia juga tak bertanya pertanyaan sepele. Ia ingin jawaban yang keluar dari baginda Nabi SAW adalah jawaban nan agung. Maka, ia menambahi frasa, "Suatu perkara dalam agama Islam yang aku tidak akan bertanya kepada selain engkau."

Sungguh bertanya jawaban yang hanya Rasulullah SAW pahami adalah sebuah ilmu yang tak ternilai. Jawabannya pastilah kalimat sarat makna dan ilmu. Inilah dia jawaban yang Abu Amrah tidak akan pernah  bertanya kepada selain Nabi SAW. "Katakanlah, 'Aku beriman kepada Allah', kemudian istiqamahlah."

Istiqamah, sebuah kata yang mudah diucapkan, tapi sangat berat untuk dilaksanakan. Benarlah jika nasihat yang terlihat sepele ini begitu agung. Istiqamah adalah pembuktian. Kita sudah mengikrarkan  sebuah kesaksian Allah sebagai illah dan Muhammad sebagai Rasul dalam lisan kita. Kita juga dituntut melakukan amalan-amalan sebagai perwujudan ikrar syahadat tadi. Semua itu diikat dalam istiqamah. Daya tahan sejauh mana kita benar-benar merealisasikan janji itu.

Disarikan dari Dialog Jumat Republika